Uncategorized

Sweet Memory

Malam ini panas sekali, 25 derajat serasa 32 derajat! Tapi Alhamdulillah… musim semi menjelang musim panas, suhu naik artinya heater bisa dimatikan dan tidak was-was tagihan energi membengkak. Well, tapi kali ini tulisanku tidak akan membahas mahalnya energi di negeri ini.

 

Aku teringat suatu kenangan.  Kala itu panas seperti ini hingga aku susah tidur, dan aku sedang menginap di rumah Budheku di Demak. Saat itu menjelang tahun baru entah tahun berapa.  Awalnya aku berencana hanya menginap satu malam kemudian pulang. Eh malah Budheku menahanku, minta aku bermalam 1 hari lagi dengan alasan masih banyak kuliner yang belum aku cicipi. Benar juga sih, saat menginap di sana, tak pernah aku merasa lapar. Makan inilah, jajan itulah…  Tapi aku bertekad bulat untuk pulang karena sudah ada janji dengan temanku, temanku akan menginap di rumah saat malam tahun baru.  Budheku masih bersikeras agar aku stay semalam lagi. Kalah melobi, akhirnya aku SMS Bapak.  Aku hanya bilang belum boleh pulang, tapi aku ingin pulang.   Tak berapa lama, Budhe bilang kalau Bapak menelpon beliau dan menyuruhku pulang.  Budhe pun penuh selidik mengintrogasiku… “Kamu bilang Bapakmu to supaya telpon Budhe?”  Kami pun tertawa bersama-sama.  Bapak sungguh pengertian, tahu kalau aku pasti kalah diplomasi dengan Budhe.  Dan aku pun tahu, Budhe pasti mendengarkan omongan adiknya tersayang. Hehe…  Jari kelingking kalah dengan jari telunjuk, tapi jari telunjuk kalah dengan jempol!

 

Ternyata memoriku dengan Bapak bukanlah saat aku wisuda sarjana atau wisuda dokter, karena beliau sudah tiada sebelum aku menjadi apa-apa.  Namun kenangan-kenangan kecil inilah yang ternyata menjadi harta karunku…..  Semoga Allah merahmatimu, mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahmu, dan mengumpulkan kita semua di surgaNya kelak. Aamiin…

 

Beliaulah (beserta Ibuku tentu saja) yang mendidikku menjadi perempuan yang tangguh.  “Perempuan tidak boleh hanya bisa menangis!”.  Aku boleh menangis, tapi aku juga harus pandai mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah…. Sebelum mengenal istilah women empowerment, aku sudah belajar hal itu dari beliau.  Alhamdulillah, kedua anak perempuan Bapak menjadi wanita yang berdaya.  Semoga kelak kami juga mampu meneruskan ajaran ini.  Menjadi wanita yang berdaya sekaligus mampu menjaga martabat pria (suaminya).  Itulah yang selalu beliau ajarkan.  Aku akan selalu mengenangmu, Pak. Kenangan-kenangan kecil nan indah selama 21 tahun kita bersama…..

 

11.03 pm, 17 Mei 2017

8 tahun 55 hari sejak kita berpisah

Advertisements
Academic · Uncategorized

Academic Writing: Tips and Resources

Well, akhir-akhir ini aku sangat aktif nge-blog.  Bukan karena aku g ada kerjaan ya (haha.. takut amat dikatain pengangguran).  Hanya saja, setelah ku tengok-tengok, banyak juga tulisan di laptop yang mungkin bisa berguna bagi orang lain.  Jadi mohon maaf kalo topik tulisannya sangat random, mulai dari catatan perjalanan, essai, seputar kesehatan, dan kali ini tentang tips menulis akademik dalam bahasa Inggris.  Disclaimer: saya bukan ahli bahasa, bukan pula ahli menulis akademik.  Saya hanya share materi dari Nijmegen Centre for Academic Writing, Radboud University, tempat dimana saya belajar saat ini.

Berbekal nilai IELTS yang lumayan, saya merasa cukup tenang dengan kemampuan bahasa Inggris saya.  Later I found out, ternyata salah besar sodara-sodara!  Saat dihadapkan pada tugas menulis, baik itu essay, project proposal, atau thesis, saya masih sangat kesulitan.  Kesulitan itu biasanya berupa bagaimana menuliskan kembali materi yang sudah saya baca dengan kalimat saya sendiri (rephrasing), bagaimana membuat tulisan yang punya alur agar mudah dipahami (coherence), serta masalah klasik, grammar.  Huhu… Karena keterbatasan waktu untuk belajar bahasa Inggris di tengah tuntutan akademik yang aduhai, akhirnya saya datang ke Centre for Academic Writing.  Di sana saya diskusi dengan mentor (bukan dosen) tentang kendala yang saya hadapi.  Mereka menekankan bahwa mereka bukan guru bahasa dan bukan proof reader.  Jadi saya datang membawa tulisan yang sudah saya buat, dibahas sedikit (karena hanya dikasih 30 menit satu sesi), dan dikasih “jalan keluar” berupa tips dan resources untuk belajar academic writing, sendiri!!! Hihihi…. Pada akhirnya saya memang harus invest waktu.  Nah, disini saya mau berbagi resources tersebut.  Semoga ada manfaatnya :

*Grammar Issues

Punya masalah dengan grammar?  Sama! Hehe…  Tips nya adalah gunakan satu buku grammar atau website untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang kita cari, over and over again.  Lama-lama akan hafal juga kan?  Kalau ada waktu, dan memang harus diusahakan ada waktu, bisa ikut english course (tatap muka ataupun online).  Ini list beberapa website yang bisa digunakan sebagai references:

The Purdue Online Writing Lab (OWL)

Englishpage.com

*General resources untuk academic writing

Academic Phrasebank

Website ini membantu banget untuk penulisan artikel ilmiah, terutama untuk mengutip sumber-sumber yang kita gunakan agar tidak disebut plagiat.  Disediakan berbagai contoh berbagai frase untuk mengklasifikasikan, membandingkan, memberi contoh, etc.  Bagaimanapun, kita perlu menyesuaikan contoh frase2 tersebut agar sesuai konteks tulisan kita.

Sumber-sumber lain

Masih kurang banyak sumbernya?  Okay, nih aku kasih list website yang bisa kamu kunjungi untuk improve academic writing!  Semoga sukses!!! 🙂

Academic skill, the University of Melbourne

Using English for Academic Purposes

RMIT writing skill

 

Traveling

Travel Backpack Sisterhood

Kisah ini bermula di tahun 2008, ketika aku melakukan my very first travel abroad.  Waktu itu aku masih berada di bangku SD (sekolah dokter) dan terpilih sebagai perwakilan NGO dari Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Europe Young Volunteer Exchange di Bangkok, Thailand.  Tas dalam foto ini yang menemaniku dalam perjalanan yang penuh kenangan itu, dan nantinya juga menemaniku dalam banyak petualangan berikutnya.

Kala itu, hujan mengguyur kota Semarang di malam keberangkatanku menuju Jakarta untuk kemudian bertolak ke Bangkok.  Seperti biasa ketika hujan turun, banjir atau rob menerjang sebagian wilayah Semarang, termasuk stasiun Tawang.  Aku yang diantar rombongan keluarga sudah ditunggu sahabatku (blognya ada di sini) di ruang tunggu keberangkatan.  Kami memang sudah janjian, karena aku mau pinjam “tas doraemon” alias tas slempang kecil yang bisa diisi macem-macem.  Dia memang beruntung karena punya segalanya (hahaha.. lebay sih) dan aku juga sangat beruntung karena punya dia 😀  Setelah chit chat sebentar, terungkaplah fakta bahwa aku mau ke luar negri tapi tidak bawa kamera.  Di jaman Majapahit waktu itu memang belum ngetrend smartphone atau digital camera karena harganya yang selangit…  Jadilah Nokia Supernova berkameranya pindah ke tanganku, agar aku bisa sekadar selfie dengan Raja Thailand katanya. Hihihi…..

Petualangan di Thailand dan Vietnam (2008) menjadi petualangan pertamaku bersama si Marabunta (tas hitam itu baru saja kunamai).  Tas ini atas izin Allah berada di tanganku setelah sekian lama menabung dari hasil memberikan les dan menjadi camp leader dalam sebuah (atau beberapa) work camp.  Tak pernah kusangka, setahun berikutnya aku kembali berpetualang, kali ini di Eropa.  Bersama Marabunta aku backpacking di lima negara, dan sebagai kenang-kenangan aku sematkan bendera negara-negara tersebut pada bagian atas tas ini (tapi aku lupa masang bendera Indonesia 😦 Kalau kamu baca dan sempet, tolong dipasangin ya plissss).

Tak berhenti di situ, petualangan berlanjut di Indonesia.  Kali ini aku berkesempatan berpetualang bersama sahabatku itu mengunjungi tempat-tempat eksotis di Nusantara.  Lombok, Malang, Sempu, dan Bromo kami kunjungi di sela-sela kesibukan kami sebagai calon dokter.  Awesome!!!!

P1010050
Lombok, 2012

Kini Marabunta kuserahkan pada sahabatku itu, sahabat yang rela memberikan apa saja untuk mendukungku….  Kehadiran si tas hitam itu pasti lebih bermakna di tangannya yang hobi muncak.  Suatu senja di kota Jogja di tahun 2016, aku berikan tas tersebut dengan penuh rasa haru.  Bagaimana tidak, Marabunta telah memberikan warna pada masa mudaku, mulai dari travelling hingga jualan duren!  Selamat berpetualang bersama tuan baru, Marabunta!  Tuan yang akan menggunakanmu to the fullest!!  InsyaaAllah kita akan bertemu lagi dan kembali berpetualang bersama, aku, kamu dan dia 🙂 *lengkap beserta pasangan dan buntut masing-masing tentunya….

DSC00841
Foto di Sempu, Juni 2013
IMG-20161127-WA0004
Petualangan baru dengan owner baru, Gunung Merapi, 2016

Nijmegen, 06 April 2017

Kesehatan · Microbiology

Pengendalian Resistensi Antimikroba di Indonesia

Tulisan ini saya buat dalam rangka “Sayembara LPDP 2017”.  Namun pada menit-menit terakhir, essai ini saya ganti dan tidak jadi dikirim.  Daripada usang di laptop, akhirnya saya posting saja di sini, siapa tau bermanfaat.  Hehe….

 

Resistensi antimikroba merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur, virus, dan parasit) berubah dan menjadi kebal ketika mereka terpapar obat antimikroba (misalnya antibiotik, antijamur, antivirus, antimalaria, dan anticacing).  Resistensi antimikroba mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, parasit, virus dan jamur.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat.  Dampak dari resistensi antimikroba dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis, HIV, dan malaria), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.

 

Pemerintah Indonesia telah merespon masalah resistensi antimikroba ini dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI  nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resitensi Antimikroba (PPRA) di Rumah Sakit.  Namun, peraturan menteri ini hanya mencakup pengendalian resistensi di rumah sakit dan tidak mencakup pengendalian di masyarakat.  Strategi pengendalian resistensi antimikroba dapat dilakukan melalui dua hal yaitu: penggunaan antibiotik secara bijak dan pencegahan penyebaran mikroba resisten.  PPRA di rumah sakit telah terbukti berhasil meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional.  Dampak PPRA akan lebih nyata dan signifikan jika program ini diperluas hingga praktek dokter mandiri sehingga dokter-dokter di luar rumah sakit juga menggunakan antimikroba secara bijak.  Selain itu, diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatkan penggunaan antimikroba secara rasional.  Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia dapat dengan mudah membeli obat antimikroba dari apotek tanpa resep dokter.  Hal ini tentu saja akan memperbesar peluang munculnya mikroba yang resisten terhadap antimikroba.  Oleh karena itu diperlukan pula pelaksanaan aturan yang ketat dalam penjualan antimikroba di apotek.

 

Dari uraian di atas, diperlukan kerjasama semua pihak dalam melaksanakan program pengendalian resistensi antimikroba.  Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia harus menerapkan penggunaan antimikroba secara bijak dan mencegah penyebaran mikroba resisten.  Tak kalah penting, diperlukan pengawasan ketat terhadap penjualan obat antimikroba oleh apotek, dan diperlukannya edukasi kepada masyarakat tentang obat-obat antimikroba dan bahaya resistensi antimikroba.

 

Rujukan :

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
  2. Antimicrobial Resistance. http://www.who.int/antimicrobial-resistance/en/
  3. Hadi U, et al. Audit of antibiotic prescribing in two governmental teaching hospital in Indonesia. Clinical Microbiology and Infection : the official of the Eur Soc Clin Microb and Inf Dis 2009; 14(7): 698-707
Uncategorized

Tips Belajar IELTS

Bismillaahirrahmaanirrahiim….

Beberapa waktu lalu setelah saya posting tentang kumpulan soal-soal IELTS dan TOEFL, ada beberapa teman yang menanyakan tips bagaimana caranya belajar IELTS.  Setelah sekian lama, barulah sekarang bisa menuliskan cara belajar ala saya. Hihi… Siapalah saya ini… Hanya sekedar sharing saja.  Jika cocok, silakan dipakai.  Jika tidak, silakan temukan metode yang paling cocok denganmu 🙂  Karena pada dasarnya tidak ada metode yang ampuh untuk semua orang.  Without further ado, here we go :

  1. Niat

Innamal a’malu binniyat (amal itu tergantung niatnya).  Karena saya seorang muslim, saya niatkan belajar IELTS ini karena Allah SWT.  Jika nilainya bagus, alhamdulillah.  Kalau masih jelek, insyaa Allah masih mendapat pahala karena sudah berusaha.  Nah, niat ini juga harus dijabarkan dalam bentuk tindakan.  Bersungguh-sungguh dalam belajar, meluangkan waktu khusus barang sejam dua jam dalam sehari adalah salah satu bentuk niat.  Jika ingin nilai bagus tapi waktu belajarnya masih kalah lama dibanding waktu yang dihabiskan untuk melihat facebook atau instagram, ya belum niat namanya. Hehehe..

2.  Berdoa

Mintalah izin kepada pemilik segala ilmu, Allah SWT.  Banyak yang menuliskan berdoa dibagian akhir tipsnya.  Bagi saya, berdoa ini penting.  Jika Allah mengizinkan, insyaa Allah segalanya jadi mudah.  Belajar lebih gampang, waktu walaupun sempit tapi sempat (digunakan untuk belajar).

3.  Kumpulan soal atau materi belajar

Mempunyai kumpulan soal latihan yang memadai itu penting.  Karena dari materi-materi tersebut kita dapat mengetahui seluk beluk IELTS (peraturan tes, bentuk soal, dll) dan materi apa saja yang perlu kita dalami.  Biasanya dalam kumpulan soal juga terdapat tips and tricks bagaimana mendapatkan nilai IELTS yang tinggi.  Contoh soal-soal IELTS dapat dilihat disini, atau bisa googling sendiri 🙂  Mempunyai kumpulan soal itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah MEMPELAJARI nya.  Sebaiknya, download satu kumpulan soal, belajar/kerjakan hingga tuntas, baru cari kumpulan soal yang lain.  Mendownload sekaligus biasanya berakibat materi hanya tertumpuk di laptop. Hehe… *pengalaman pribadi*

4.  Banyak Latihan

Bagi saya latihan dibagi dua macam, cara cepat dan cara lambat.  Cara cepat digunakan kalau waktu sudah mepet dan harus segera ambil tes.  Cara cepat ini dengan drilling.  Mau tidak mau harus banyak belajar soal, kerjakan, dinilai.  Diulang-ulang terus.  Listening bisa dilakukan dimana saja, sambil menunggu bis, ketika ada rehat sebentar, dll.  Gadget adalah saran ampuh dan praktis untuk belajar listening.  Untuk speaking, bisa meminta teman untuk mendengarkan, atau kita ngomong dan direkam.  Speaking harus benar-benar dilatih dengan ngomong, tidak bisa hanya melihat contoh-contoh speaking.  Untuk reading dan writing, sebaiknya meluangkan waktu khusus untuk ini karena kita butuh konsentrasi untuk membaca dan menulis.  Tips-tips yang lebih spesifik, insyaa Allah nanti akan saya tuliskan dalam tulisan yang berbeda.

Selanjutnya adalah cara lambat.  Cara lambat dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.  Membaca koran atau media online berbahasa Inggris (the Jakarta Post, BBC, the Guardian, dll), membaca jurnal ilmiah, menonton acara televisi (jika suka), dan banyak berinteraksi dengan orang lain menggunakan bahasa Inggris.  Jika membaca media online atau buku berbahasa Inggris, baca dulu semuanya, kira-kiralah artinya tanpa membuka  kamus atau google translate.  Setelah kita kira-kira, baru tandai kata-kata sulit, cari artinya, catat, dan buatlah kalimat baru dengan kata-kata tersebut.  Kemampuan memahami konteks tulisan tanpa tahu semua kata-kata yang ada di tulisan itu sangat penting, karena tidak mungkin kita paham semua kosakata yang nantinya muncul di soal.  Dengan melakukan hal ini, kosakata kita akan semakin luas dan kemampuan memahami tulisan juga meningkat 🙂  Saya sendiri belajar bahasa Inggris dari membaca jurnal ilmiah.  Sejak jaman koass (dokter muda) saya sering menerima order terjemahan.  Alhamdulillah, ada hikmahnya menjadi translator walaupun bayarannya tak seberapa. Hehehe….

5.  Tawakal

Setelah berdoa dan berusaha dengan tekun, yang bisa kita lakukan adalah tawakal.  Apapun hasilnya, jangan berhenti belajar.  Jika bagus, alhamdulillah, kita bisa lanjut untuk belajar ilmu yang lain.  Jika belum bagus, ulangi lagi dan belajar lebih keras.  Tetap semangat dan keep smile 🙂

 

PS: Bagi yang waktunya sempit alias sibuk, jangan berkecil hati.  Saat mengambil tes IELTS ini, posisi saya masih bekerja fulltime dan mempunyai anak balita.  Alhamdulillah masih bisa mendapat nilai yang baik.  When there’s a will, there’s a way…

 

 

 

Beasiswa · LPDP · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 3

Seri terakhir dari essai beasiswa LPDP.  The most unattractive one, study plan.  However, I hope this essay can be an example to make your own study plan.  The first essay about “Kontribusiku Bagi Indonesia” can be seen here, and the second one about “Kesuksesan Terbesar Dalam Hidupku” is here.

 

RENCANA STUDY

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menghadapi persoalan ganda di bidang kesehatan, yaitu penyakit menular yang masih tinggi di satu sisi, serta tren meningkatnya penyakit tidak menular di sisi yang lain. Berdasarkan data WHO dan World Bank di tahun 2000, penyakit infeksi berkontribusi terhadap 43% global burden of diseases—yaitu keseluruhan pengaruh penyakit dan cedera pada tingkat individu, tingkat sosial, atau pengaruh ekonomi dari suatu penyakit.  Seperti diketahui, infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit. Di sinilah peran ilmu mikrobiologi klinik dalam penanganan penyakit infeksi.  Mikrobiologi berperan dalam identifikasi penyebab infeksi sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi dan dicegah penyebarannya.

Saya berencana mengambil studi master spesialisasi-Mikrobiologi pada Fakultas Sains di Radboud University Nijmegen, Belanda. Topik utama dalam spesialisasi mikrobiologi ini adalah Mikrobiologi Lingkungan dan Bioteknologi, Imunologi, dan Mikrobiologi Molekuler.  Program ini memiliki beban 120 European Credit Transfer Systems (ECTS) yang ditempuh selama 2 tahun dengan komponen sebagai berikut:

  1. Kuliah wajib (15 ECTS)
  • Pendahuluan dan Orientasi Mikrobiologi
  • Fisiologi dan Metabolisme Mikroba
  • Mikrobiologi Lingkungan dan Bioteknologi
  • Struktur dan Fungsi Sel Mikroba
  • Interaksi Host-Mikroba
  1. Internship Penelitian (36 ECTS)
  2. Internship Penelitian Kedua (36 ECTS)
  3. Thesis (12 ECTS)
  4. Mata Kuliah Elektif (18 ECTS) : dalam mata kuliah elektif ini saya berencana akan mengambil topik (masing-masing topik bernilai 3 ECTS) :
  • Advanced Endocrinology
  • Laboratory Animal Science
  • Research Skills
  1. Kuliah Filosofi (3 ECTS)

 

Internship penelitian salah satunya akan saya lakukan di Radboud University atau Radboud university medical center (Radboud UMC), sedangkan internship yang lain, jika memungkinkan ingin saya lakukan di Indonesia.   Mengingat saya akan kembali ke Indonesia, alangkah baiknya jika dalam masa studi ada penelitian yang saya lakukan di sini sehingga saya lebih mengenal medan yang akan saya hadapi nanti.

Saya sangat tertarik dengan topik ketiga program ini yaitu Mikrobiologi Molekuler.  Banyak pertanyaan misalnya: bagaimana mikroorganisme dapat bertahan dalam tubuh manusia dan bagaimana mereka menyebabkan penyakit; bagaimana regulasi genetik mikroorganisme tersebut sehingga bersifat patogen; dapatkah genom mikroba membantu kita menentukan bagaimana mikroorganisme berinteraksi dengan sel host manusia—yang ingin saya ketahui jawabannya.  Untuk topik tesis, saya sangat tertarik dengan Mycobacterium tuberculosis, patogen yang bertanggung jawab atas penyakit tuberkulosis (TB).  Saya berharap dengan berfokus pada mikrobiologi molekuler kuman Mycobacterium tuberculosis, saya dapat meneliti mekanisme resistensi kuman ini terhadap antibiotik dan mencegah atau mengatasi resistensi tersebut.  Terapi yang efektif merupakan strategi yang paling baik untuk mencegah penularan penyakit tuberkulosis.

Untuk kegiatan di luar perkuliahan, saya berencana mengikuti organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Nijmegen (PPI Nijmegen).  Saya berharap dengan mengikuti organisasi ini, dapat meningkatkan komunikasi dengan pelajar-pelajar Indonesia lain yang sedang menempuh pendidikan di sana dan pada akhirnya menumbuhkan semangat belajar dan nasionalisme.

Saya pernah tinggal di Nijmegen selama 3 bulan pada tahun 2009 saat mengikuti International Health Course.  Pada waktu itu saya menemukan komunitas, yang meskipun tidak mempunyai nama resmi, melakukan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian.  Bagi saya yang seorang muslim, kegiatan ini sangat penting dan membantu menyegarkan keimanan saya yang seringkali menghadapi tantangan selama tinggal di negara Belanda yang terkenal sangat bebas.

Beasiswa · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 2

Essai beasiswa LPDP ini terdiri dari 3 bagian.  Bagian pertama tentang “Kontribusiku Bagi Indonesia”.  Bagian kedua adalah “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”.  Essai ini sangat sulit karena definisi sukses itu sangat relatif.  So, ini definisi suksesku ketika akan melamar beasiswa. Hihihi…

 

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

“Bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri.” ― Jamie Winship

Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pedesaan, menjadikan saya pribadi yang sederhana.  Namun tidak begitu halnya soal cita-cita.  Saya bercita-cita menjadi seorang dokter dan peneliti.  Dokter di mata saya adalah profesi yang mulia dan sangat bermanfaat bagi banyak orang.  Di desa  saya tidak ada dokter kala itu, dan banyak sekali tetangga yang terlambat mencari pertolongan medis dikarenakan faktor biaya ataupun ketidaktahuan.  Dari situlah tumbuh benih cita-cita untuk menjadi dokter.  Walaupun banyak orang yang meragukan dari segi finansial—karena orang tua saya hanya guru SD yang berpenghasilan pas-pasan—saya tidak pernah menghapus mimpi itu.  Bahkan keraguan orang-orang terdekat semakin memperkuat tekad dan doa agar saya dapat masuk pendidikan dokter.  Berkat izin Allah, pada tahun 2005 saya diterima di Fakultas Kedokteran Undip Semarang.

Merasa sangat bersyukur karena telah diterima di fakultas idaman, saya terus berusaha mencapai prestasi akademik maupun non akademik.  Alhamdulillah, IPK saya tidak pernah kurang dari angka 3 dan beberapa kali mendapat prestasi di bidang penulisan ilmiah dan lomba debat bahasa Inggris.  Tidak berhenti sampai di sini, saya pun aktif di kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa dan kegiatan kerelawanan di luar kampus.  Saya aktif di organisasi MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) cabang Semarang—organisasi yang memberikan bantuan medis dan kemanusiaan dalam skala nasional maupun internasional—dan Indonesia International Work Camp—organisasi kerelawanan internasional yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan.  Karena aktif di organisasi kerelawanan itu pulalah yang membawa saya terpilih sebagai duta Indonesia dalam ajang Asia-Europe Young Volunter Exchange 2008, yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand.  Dalam kegiatan tersebut saya mengajukan proposal untuk pendirian rumah baca di daerah Tegalsari Kabupaten Semarang, yang menjadi cikal bakal komunitas rumah baca di sana.

Di setiap fase kehidupan pasti ada ujian. Di tahun 2009, ketika saya mendapat beasiswa untuk menempuh International Health Course di Nijmegen, Belanda, ayah  berpulang ke Rahmatullah.  Suatu pukulan yang berat karena beliau tiada ketika saya tidak ada di sisi beliau.  Namun, ibu dan kakak saya yang menguatkan dan mendorong saya untuk terus maju dan melanjutkan course saya selama 3 bulan.  Dengan motivasi mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orang tua, akhirnya saya berhasil menjadi salah satu dari dua peraih nilai tertinggi dalam ujian tertulis course tersebut.

Pada tahun 2012, saya lulus sebagai dokter dengan predikat cumlaude.  Saya bertekad mengabdikan diri bagi kemajuan kesehatan dan dunia riset di Indonesia, utamanya di bidang infeksi—sebuah bidang yang sangat saya minati sejak mengikuti International Health Course.  Bagaikan gayung bersambut, saat itu ada kesempatan untuk menjadi asisten penelitian di INA-RESPOND (Indonesia Research Partnership on Infectious Diseases) site RSUP dr. Kariadi Semarang.

INA-RESPOND adalah jejaring penelitian yang berfokus pada bidang infeksi, sebuah permasalahan besar dalam bidang kesehatan nasional. Tujuan jejaring ini adalah untuk melakukan penelitian dasar dan klinis, meningkatkan pemahaman tentang patogenesis penyakit, serta mencegah dan mengobati penyakit menular berdasarkan perhatian negara dan sejalan dengan prioritas Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada akhirnya diharapkan agar hasil penelitian dari jejaring ini akan memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan membangun kapasitas penelitian berkelanjutan di Indonesia.  Sebuah tujuan mulia yang sesuai dengan cita-cita saya, menjadi seorang dokter dan peneliti.

 

*essai ketiga tentang rencana studi bisa dilihat disini