Uncategorized

Masak ala anak rantau

Dari sekian banyak hal yang aku pelajari selama berada di negeri orang adalah memasak.  Ya, memasak masakan Indonesia.  Sesuatu yang dulu (malah) jarang aku lakukan di kampung halaman.  Kenapa jarang masak?  Ada ibu di rumah.  Hehe… Lagian banyak penjual masakan jadi (orang Jawa bilang “bakul matengan”), baik itu penjual keliling maupun warung-warung makan.  Pengin apa aja gampang dan murah serta insyaa Allah halal (pedagangnya tetangga sendiri, muslim).  Mie ayam, bakso, gorengan, siomay, tahu campur, nasi goreng, martabak, etc.  Sebutin sendiri deh, semuanya ada!!!  Semua berubah ketika negara api menyerang, eh salah, ketika sekolah di Belanda (lebih tepatnya desa Nijmegen).  Semua-mua enak masak sendiri.  Lha gimana, mau beli masakan Indonesia yang otentik harganya menguras kantong mahasiswaku, atau g jelas status halalnya.  Akhirnya aku mulai belajar memasak.  Alhamdulillah jaman sekarang ada cookpad.  Di situ ada berbagai macam resep dengan segala tingkat kesulitan.  Jadi tinggal pilih mau bikin yang simpel atau ekstra ribet.  Hehe… Kali ini aku ingin posting beberapa foto masakan yang sukses.  Cerita di balik masaknya kapan2 aku tulis 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Uncategorized

Merajut Mimpi (1)

Alhamdulillah… Tak terasa sudah 10 bulan aku berada di Belanda untuk menempuh pendidikan master dengan beasiswa LPDP.  Sudah sejak lama aku ingin menulis tentang kisahku tapi tak kunjung terlaksana.  Beberapa sempilan tulisanku tentang beasiswa bisa dibaca di sini.  Okay, kita mulai saja ya 🙂

———————————–***————————————–

 

Sejak lulus kuliah dokter di tahun 2012, aku sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan master.  Aku ingin menempuh jalur riset karena melanjutkan pendidikan spesialis langsung teramat mahal bagiku.  Waktu itu belum ada atau baru akan ada beasiswa dokter spesialis dari LPDP.  Qadarullah, aku mendapatkan pekerjaan menjadi research assistant di sebuah jejaring penelitian infeksi, INA-RESPOND, sehingga keinginan untuk sekolah aku tunda.  Saat itu aku berpikir, aku harus menabung untuk persiapan sekolah sekaligus membantu orang tua.  Karena selama sekolah di FK Undip, tak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh orang tuaku.  Saat bekerja di INA-RESPOND site RS dr. Kariadi itu pulalah aku mendapatkan putri kecilku yang sudah kami nanti-natikan kehadirannya.  Another reason to postpone my study!  Sampai akhirnya di tahun 2015 ketika aku merasa sudah tak bisa berkembang sebagai RA dan anakku sudah lebih dari satu tahun, aku memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP.

Waktu itu pembukaan beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) LPDP dilakukan 4 kali dalam setahun.  Aku mendaftar pada batch IV 2015.  Berbekal riset dari blog-blog yang menulis tentang beasiswa LPDP dan bertanya kepada teman-teman yang sudah lolos terlebih dahulu, serta yang utama adalah berdoa kepada Allah, aku mendaftar dengan ketar-ketir karena belum mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari Universitas yang aku tuju.  Pokoknya bismillah… Alhamdulillah satu per satu fase seleksi aku lalui, mulai dari seleksi administrasi hingga wawancara (seleksi wawancara terdiri dari verifikasi dokumen, leaderless group discussion, on the spot essay writing, dan wawancara itu sendiri).  Setelah itu aku fokus pada pencarian LoA yang harus dimulai dari IELTS.  Ya, untuk mendaftar beasiswa LPDP aku hanya menggunakan TOEFL ITP yang tesnya lebih murah.  Dahulu peraturannya masih memungkinkan, tapi untuk saat ini (mulai tahun 2016 kalau tidak salah), untuk pendaftar beasiswa LN (baik S2 maupun S3) harus sudah mempunyai sertifikat IELTS dengan skor minimal 6.5.  Perjuangan belajar IELTS secara mandiri juga tidaklah mudah.  Aku harus meluangkan waktu diantara jam kantor dan mengasuh anak balita agar dapat fokus belajar.  Alhamdulillah… hanya karena Allah lah aku bisa dapat skor 7.5 dalam sekali tes (dengan nilai reading 8.5 dari 9).  Jadi translator jurnal sewaktu koass ternyata ada hikmahnya. Hihi… (Later I find out nilai IELTS segitu tidak menjamin “bebas hambatan” dalam berbahasa Inggris.  Kisahnya dapat dibaca di sini).

Setelah IELTS beres, barulah aku mendaftar ke Radboud University.  Jurusan yang aku pilih adalah microbiology di bawah Faculty of science.  Kenapa tidak memilih yang di bawah fakultas kedokteran?  Jawabannya, tidak ada jurusan microbiology.  Sedangkan yang ditawarkan oleh faculty of science adalah balance antara environmental micro and medical micro.  Menarik bukan?  Program ini juga menawarkan 2 kali internship masing-masing berdurasi 6 bulan, sehingga kita punya kesempatan mendalami bidang yang kita sukai, atau mencoba keduanya.  Setelah melalui proses yang panjang mulai dari seleksi administratif hingga wawancara skype, alhamdulillah aku diterima!!!  Perjuangan baru pun dimulai……  Ya, perjuangan baru untuk mempersiapkan keberangkatan.

Aku berencana berangkat beserta keluarga (suami dan anak), sehingga membutuhkan usaha ekstra sebelum berangkat.  Visaku diurus oleh kampus, yang menjadi PR tinggal visa anak dan suami.  Kisahnya akan kutulis lain kali.  Singkat cerita, pada pertengahan bulan Agustus kami sampai di kota Nijmegen, Belanda.  Kami sengaja berangkat sebelum perkuliahan dimulai (awal tahun ajaran baru adalah 1 September, tapi tahun lalu dimulai tanggal 29 Agustus karena bertepatan dengan hari Senin) agar ada waktu untuk beradaptasi.  Alhamdulillah, berkat bantuan banyak orang yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, it was a smooth transition.  Kami tidak mengalami cultural shock atau stress hingga saat ini.  Mungkin juga karena di Belanda banyak teman-teman Indonesia, ada komunitas muslim, mudah menemukan bahan makanan Indonesia, dst.  Alhamdulillah… 1000x

Tak terasa sudah 10 bulan, compulsory course sudah selesai, 1 review thesis sudah selesai, satu internship hampir selesai… Sebentar lagi dan akan selesai.  Pulang atau lanjut S3? Hanya waktu yang akan menjawabnya…..  Mohon doanya 🙂

 

LKI lab, waktu di antara running eksperimen

29.06.2017

Uncategorized

Notes from Nijmegen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…..

Beberapa waktu lalu sekretariat INA-RESPOND (tempat dulu aku berkerja) meminta kepada para ex-RA nya untuk menulis tentang kegiatan mereka saat ini.  Cerita ini kemudian dimuat dalam monthly newsletter INA-RESPOND.  Sepertinya lumayan juga untuk di-repost di blog. Hehe…. Supaya enggak dua kali nulis 🙂

*************************

Dr Indri Hapsari  (INA-RESPOND RA from Semarang site: 8 July 2013 – 2 July 2016)

dr Indri was with the INA-RESPOND AFIRE study team for quite some time. She’s also one of our most reliable RAs. Where is she now? She’s writing us from The Netherlands!

Hi everyone!  I’m so excited to get an email from the INA-RESPOND Secretariat.  Honestly, I miss the routine I did as an RA, and most importantly, I miss the Secretariat personnel!  I’m doing great here. I’m taking Microbiology Master Program in Radboud University Nijmegen, the Netherlands. This is a completely new journey for me and my family (I’m taking my husband and daughter). Having my family here makes me feel secure and comfortable.

As for my academic life, I have to make a lot of efforts to stay ahead as it has been quite a while since the last time I was in school, but guess what… I’ve got the highest score for my last compulsory course (host-microbe interaction/immunology)!  Right now I’m undertaking an internship in the Laboratory of Pediatric Infectious Disease, Radboud University Medical Center; working on Streptococcus pneumoniae. I feel like I’m the PI,
the RA, the Lab Technician, and also the Data Manager all at once!

My experiences as an RA in INA-RESPOND study have helped me a lot in conducting my research. I have become familiar with organizing sample, collecting data, and doing administrative stuff. In addition, working with people from various backgrounds is no longer an issue for me. Of course, there is a different academic culture between here and in Indonesia. I don’t feel too much hierarchy and have more egalitarian. Currently I’m working in a lab, doing the ‘dirty job’ as well as being a PI who has to fully understand why I did this and that (but definitely I’m supervised all the time).
I hope I can continue my study and get my PhD in the future, and perhaps, collaborate with INA-RESPOND someday! See you soon!

 

newsletter

Uncategorized

Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan menjadi kebal ketika terpapar obat antibiotik1.  Resistensi antibiotik mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat2.  Dampak dari resistensi antibiotik dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis dan sepsis), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.  Continue reading “Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia”

Uncategorized

Sweet Memory

Malam ini panas sekali, 25 derajat serasa 32 derajat! Tapi Alhamdulillah… musim semi menjelang musim panas, suhu naik artinya heater bisa dimatikan dan tidak was-was tagihan energi membengkak. Well, tapi kali ini tulisanku tidak akan membahas mahalnya energi di negeri ini.

 

Aku teringat suatu kenangan.  Kala itu panas seperti ini hingga aku susah tidur, dan aku sedang menginap di rumah Budheku di Demak. Saat itu menjelang tahun baru entah tahun berapa.  Awalnya aku berencana hanya menginap satu malam kemudian pulang. Eh malah Budheku menahanku, minta aku bermalam 1 hari lagi dengan alasan masih banyak kuliner yang belum aku cicipi. Benar juga sih, saat menginap di sana, tak pernah aku merasa lapar. Makan inilah, jajan itulah…  Tapi aku bertekad bulat untuk pulang karena sudah ada janji dengan temanku, temanku akan menginap di rumah saat malam tahun baru.  Budheku masih bersikeras agar aku stay semalam lagi. Kalah melobi, akhirnya aku SMS Bapak.  Aku hanya bilang belum boleh pulang, tapi aku ingin pulang.   Tak berapa lama, Budhe bilang kalau Bapak menelpon beliau dan menyuruhku pulang.  Budhe pun penuh selidik mengintrogasiku… “Kamu bilang Bapakmu to supaya telpon Budhe?”  Kami pun tertawa bersama-sama.  Bapak sungguh pengertian, tahu kalau aku pasti kalah diplomasi dengan Budhe.  Dan aku pun tahu, Budhe pasti mendengarkan omongan adiknya tersayang. Hehe…  Jari kelingking kalah dengan jari telunjuk, tapi jari telunjuk kalah dengan jempol!

 

Ternyata memoriku dengan Bapak bukanlah saat aku wisuda sarjana atau wisuda dokter, karena beliau sudah tiada sebelum aku menjadi apa-apa.  Namun kenangan-kenangan kecil inilah yang ternyata menjadi harta karunku…..  Semoga Allah merahmatimu, mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahmu, dan mengumpulkan kita semua di surgaNya kelak. Aamiin…

 

Beliaulah (beserta Ibuku tentu saja) yang mendidikku menjadi perempuan yang tangguh.  “Perempuan tidak boleh hanya bisa menangis!”.  Aku boleh menangis, tapi aku juga harus pandai mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah…. Sebelum mengenal istilah women empowerment, aku sudah belajar hal itu dari beliau.  Alhamdulillah, kedua anak perempuan Bapak menjadi wanita yang berdaya.  Semoga kelak kami juga mampu meneruskan ajaran ini.  Menjadi wanita yang berdaya sekaligus mampu menjaga martabat pria (suaminya).  Itulah yang selalu beliau ajarkan.  Aku akan selalu mengenangmu, Pak. Kenangan-kenangan kecil nan indah selama 21 tahun kita bersama…..

 

11.03 pm, 17 Mei 2017

8 tahun 55 hari sejak kita berpisah

Academic · Uncategorized

Academic Writing: Tips and Resources

Well, akhir-akhir ini aku sangat aktif nge-blog.  Bukan karena aku g ada kerjaan ya (haha.. takut amat dikatain pengangguran).  Hanya saja, setelah ku tengok-tengok, banyak juga tulisan di laptop yang mungkin bisa berguna bagi orang lain.  Jadi mohon maaf kalo topik tulisannya sangat random, mulai dari catatan perjalanan, essai, seputar kesehatan, dan kali ini tentang tips menulis akademik dalam bahasa Inggris.  Disclaimer: saya bukan ahli bahasa, bukan pula ahli menulis akademik.  Saya hanya share materi dari Nijmegen Centre for Academic Writing, Radboud University, tempat dimana saya belajar saat ini.

Berbekal nilai IELTS yang lumayan, saya merasa cukup tenang dengan kemampuan bahasa Inggris saya.  Later I found out, ternyata salah besar sodara-sodara!  Saat dihadapkan pada tugas menulis, baik itu essay, project proposal, atau thesis, saya masih sangat kesulitan.  Kesulitan itu biasanya berupa bagaimana menuliskan kembali materi yang sudah saya baca dengan kalimat saya sendiri (rephrasing), bagaimana membuat tulisan yang punya alur agar mudah dipahami (coherence), serta masalah klasik, grammar.  Huhu… Karena keterbatasan waktu untuk belajar bahasa Inggris di tengah tuntutan akademik yang aduhai, akhirnya saya datang ke Centre for Academic Writing.  Di sana saya diskusi dengan mentor (bukan dosen) tentang kendala yang saya hadapi.  Mereka menekankan bahwa mereka bukan guru bahasa dan bukan proof reader.  Jadi saya datang membawa tulisan yang sudah saya buat, dibahas sedikit (karena hanya dikasih 30 menit satu sesi), dan dikasih “jalan keluar” berupa tips dan resources untuk belajar academic writing, sendiri!!! Hihihi…. Pada akhirnya saya memang harus invest waktu.  Nah, disini saya mau berbagi resources tersebut.  Semoga ada manfaatnya :

*Grammar Issues

Punya masalah dengan grammar?  Sama! Hehe…  Tips nya adalah gunakan satu buku grammar atau website untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang kita cari, over and over again.  Lama-lama akan hafal juga kan?  Kalau ada waktu, dan memang harus diusahakan ada waktu, bisa ikut english course (tatap muka ataupun online).  Ini list beberapa website yang bisa digunakan sebagai references:

The Purdue Online Writing Lab (OWL)

Englishpage.com

*General resources untuk academic writing

Academic Phrasebank

Website ini membantu banget untuk penulisan artikel ilmiah, terutama untuk mengutip sumber-sumber yang kita gunakan agar tidak disebut plagiat.  Disediakan berbagai contoh berbagai frase untuk mengklasifikasikan, membandingkan, memberi contoh, etc.  Bagaimanapun, kita perlu menyesuaikan contoh frase2 tersebut agar sesuai konteks tulisan kita.

Sumber-sumber lain

Masih kurang banyak sumbernya?  Okay, nih aku kasih list website yang bisa kamu kunjungi untuk improve academic writing!  Semoga sukses!!! 🙂

Academic skill, the University of Melbourne

Using English for Academic Purposes

RMIT writing skill

 

Uncategorized

Tips Belajar IELTS

Bismillaahirrahmaanirrahiim….

Beberapa waktu lalu setelah saya posting tentang kumpulan soal-soal IELTS dan TOEFL, ada beberapa teman yang menanyakan tips bagaimana caranya belajar IELTS.  Setelah sekian lama, barulah sekarang bisa menuliskan cara belajar ala saya. Hihi… Siapalah saya ini… Hanya sekedar sharing saja.  Jika cocok, silakan dipakai.  Jika tidak, silakan temukan metode yang paling cocok denganmu 🙂  Karena pada dasarnya tidak ada metode yang ampuh untuk semua orang.  Without further ado, here we go :

  1. Niat

Innamal a’malu binniyat (amal itu tergantung niatnya).  Karena saya seorang muslim, saya niatkan belajar IELTS ini karena Allah SWT.  Jika nilainya bagus, alhamdulillah.  Kalau masih jelek, insyaa Allah masih mendapat pahala karena sudah berusaha.  Nah, niat ini juga harus dijabarkan dalam bentuk tindakan.  Bersungguh-sungguh dalam belajar, meluangkan waktu khusus barang sejam dua jam dalam sehari adalah salah satu bentuk niat.  Jika ingin nilai bagus tapi waktu belajarnya masih kalah lama dibanding waktu yang dihabiskan untuk melihat facebook atau instagram, ya belum niat namanya. Hehehe..

2.  Berdoa

Mintalah izin kepada pemilik segala ilmu, Allah SWT.  Banyak yang menuliskan berdoa dibagian akhir tipsnya.  Bagi saya, berdoa ini penting.  Jika Allah mengizinkan, insyaa Allah segalanya jadi mudah.  Belajar lebih gampang, waktu walaupun sempit tapi sempat (digunakan untuk belajar).

3.  Kumpulan soal atau materi belajar

Mempunyai kumpulan soal latihan yang memadai itu penting.  Karena dari materi-materi tersebut kita dapat mengetahui seluk beluk IELTS (peraturan tes, bentuk soal, dll) dan materi apa saja yang perlu kita dalami.  Biasanya dalam kumpulan soal juga terdapat tips and tricks bagaimana mendapatkan nilai IELTS yang tinggi.  Contoh soal-soal IELTS dapat dilihat disini, atau bisa googling sendiri 🙂  Mempunyai kumpulan soal itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah MEMPELAJARI nya.  Sebaiknya, download satu kumpulan soal, belajar/kerjakan hingga tuntas, baru cari kumpulan soal yang lain.  Mendownload sekaligus biasanya berakibat materi hanya tertumpuk di laptop. Hehe… *pengalaman pribadi*

4.  Banyak Latihan

Bagi saya latihan dibagi dua macam, cara cepat dan cara lambat.  Cara cepat digunakan kalau waktu sudah mepet dan harus segera ambil tes.  Cara cepat ini dengan drilling.  Mau tidak mau harus banyak belajar soal, kerjakan, dinilai.  Diulang-ulang terus.  Listening bisa dilakukan dimana saja, sambil menunggu bis, ketika ada rehat sebentar, dll.  Gadget adalah saran ampuh dan praktis untuk belajar listening.  Untuk speaking, bisa meminta teman untuk mendengarkan, atau kita ngomong dan direkam.  Speaking harus benar-benar dilatih dengan ngomong, tidak bisa hanya melihat contoh-contoh speaking.  Untuk reading dan writing, sebaiknya meluangkan waktu khusus untuk ini karena kita butuh konsentrasi untuk membaca dan menulis.  Tips-tips yang lebih spesifik, insyaa Allah nanti akan saya tuliskan dalam tulisan yang berbeda.

Selanjutnya adalah cara lambat.  Cara lambat dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.  Membaca koran atau media online berbahasa Inggris (the Jakarta Post, BBC, the Guardian, dll), membaca jurnal ilmiah, menonton acara televisi (jika suka), dan banyak berinteraksi dengan orang lain menggunakan bahasa Inggris.  Jika membaca media online atau buku berbahasa Inggris, baca dulu semuanya, kira-kiralah artinya tanpa membuka  kamus atau google translate.  Setelah kita kira-kira, baru tandai kata-kata sulit, cari artinya, catat, dan buatlah kalimat baru dengan kata-kata tersebut.  Kemampuan memahami konteks tulisan tanpa tahu semua kata-kata yang ada di tulisan itu sangat penting, karena tidak mungkin kita paham semua kosakata yang nantinya muncul di soal.  Dengan melakukan hal ini, kosakata kita akan semakin luas dan kemampuan memahami tulisan juga meningkat 🙂  Saya sendiri belajar bahasa Inggris dari membaca jurnal ilmiah.  Sejak jaman koass (dokter muda) saya sering menerima order terjemahan.  Alhamdulillah, ada hikmahnya menjadi translator walaupun bayarannya tak seberapa. Hehehe….

5.  Tawakal

Setelah berdoa dan berusaha dengan tekun, yang bisa kita lakukan adalah tawakal.  Apapun hasilnya, jangan berhenti belajar.  Jika bagus, alhamdulillah, kita bisa lanjut untuk belajar ilmu yang lain.  Jika belum bagus, ulangi lagi dan belajar lebih keras.  Tetap semangat dan keep smile 🙂

 

PS: Bagi yang waktunya sempit alias sibuk, jangan berkecil hati.  Saat mengambil tes IELTS ini, posisi saya masih bekerja fulltime dan mempunyai anak balita.  Alhamdulillah masih bisa mendapat nilai yang baik.  When there’s a will, there’s a way…