Traveling

Travel Backpack Sisterhood

Kisah ini bermula di tahun 2008, ketika aku melakukan my very first travel abroad.  Waktu itu aku masih berada di bangku SD (sekolah dokter) dan terpilih sebagai perwakilan NGO dari Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Europe Young Volunteer Exchange di Bangkok, Thailand.  Tas dalam foto ini yang menemaniku dalam perjalanan yang penuh kenangan itu, dan nantinya juga menemaniku dalam banyak petualangan berikutnya.

Kala itu, hujan mengguyur kota Semarang di malam keberangkatanku menuju Jakarta untuk kemudian bertolak ke Bangkok.  Seperti biasa ketika hujan turun, banjir atau rob menerjang sebagian wilayah Semarang, termasuk stasiun Tawang.  Aku yang diantar rombongan keluarga sudah ditunggu sahabatku (blognya ada di sini) di ruang tunggu keberangkatan.  Kami memang sudah janjian, karena aku mau pinjam “tas doraemon” alias tas slempang kecil yang bisa diisi macem-macem.  Dia memang beruntung karena punya segalanya (hahaha.. lebay sih) dan aku juga sangat beruntung karena punya dia 😀  Setelah chit chat sebentar, terungkaplah fakta bahwa aku mau ke luar negri tapi tidak bawa kamera.  Di jaman Majapahit waktu itu memang belum ngetrend smartphone atau digital camera karena harganya yang selangit…  Jadilah Nokia Supernova berkameranya pindah ke tanganku, agar aku bisa sekadar selfie dengan Raja Thailand katanya. Hihihi…..

Petualangan di Thailand dan Vietnam (2008) menjadi petualangan pertamaku bersama si Marabunta (tas hitam itu baru saja kunamai).  Tas ini atas izin Allah berada di tanganku setelah sekian lama menabung dari hasil memberikan les dan menjadi camp leader dalam sebuah (atau beberapa) work camp.  Tak pernah kusangka, setahun berikutnya aku kembali berpetualang, kali ini di Eropa.  Bersama Marabunta aku backpacking di lima negara, dan sebagai kenang-kenangan aku sematkan bendera negara-negara tersebut pada bagian atas tas ini (tapi aku lupa masang bendera Indonesia 😦 Kalau kamu baca dan sempet, tolong dipasangin ya plissss).

Tak berhenti di situ, petualangan berlanjut di Indonesia.  Kali ini aku berkesempatan berpetualang bersama sahabatku itu mengunjungi tempat-tempat eksotis di Nusantara.  Lombok, Malang, Sempu, dan Bromo kami kunjungi di sela-sela kesibukan kami sebagai calon dokter.  Awesome!!!!

P1010050
Lombok, 2012

Kini Marabunta kuserahkan pada sahabatku itu, sahabat yang rela memberikan apa saja untuk mendukungku….  Kehadiran si tas hitam itu pasti lebih bermakna di tangannya yang hobi muncak.  Suatu senja di kota Jogja di tahun 2016, aku berikan tas tersebut dengan penuh rasa haru.  Bagaimana tidak, Marabunta telah memberikan warna pada masa mudaku, mulai dari travelling hingga jualan duren!  Selamat berpetualang bersama tuan baru, Marabunta!  Tuan yang akan menggunakanmu to the fullest!!  InsyaaAllah kita akan bertemu lagi dan kembali berpetualang bersama, aku, kamu dan dia 🙂 *lengkap beserta pasangan dan buntut masing-masing tentunya….

DSC00841
Foto di Sempu, Juni 2013
IMG-20161127-WA0004
Petualangan baru dengan owner baru, Gunung Merapi, 2016

Nijmegen, 06 April 2017

Traveling

Kuta Lombok

Lombok, day 2

Selasa, 27 Maret 2012

It was quite creepy house… Rumah yang kami tempati ini terletak di kawasan Hindu dan cukup sepi. Halaman depan berbatasan dengan sawah, dan karena letaknya di pojok,  hanya sebelah kirinya yang terdapat rumah. Sebelah kanan juga merupakan sawah yang padinya sudah menguning dan siap untuk dipanen. Berkali-kali Tri menanyakan, “Berani mbak tinggal berdua saja?”, dan dengan meyakinkan kami bilang berani. Tentu saja, kini kami harus benar-benar berani. Hehe… Ceritanya, kami ini “dititipkan” di rumah teman Tri. Rumah yang saat ini ditempati Tri tak mampu lagi menampung penghuni baru karena telah penuh sesak dengan para cowok yang berprofesi sebagai pedagang martabak. Maka, kami diungsikan ke rumah temannya Tri yang tidak dipakai.

Setengah 5 pagi kami sudah bangun dan menunaikan sholat subuh. Tapi karena satu dan lain hal (capek, males mandi karena masih dingin) ‘perjalanan’ baru dimulai pukul setengah 8. Kami mengambil shortcut menuju rumah Tri melewati sawah. Hehehe… Jadi inget masa SD dulu. Aku, Tri, dik Santi, Sartini sering main ke sawah dengan izin ke ortu sebagai ‘belajar kelompok’. =D

Di rumah Tri, kami bertemu dengan keluarga lengkap (Tri, Mas Arvin dan Lala putri mereka). Setelah mendapat pinjaman motor, aku n Nee berangkat menuju Kuta (dengan kebaikan hati host ku itu, kami tidak perlu mengeluarkan 35 ribu/hari untuk sewa motor).

Pede Abis! Itu yang bisa kukatakan mengingat kondisi kami saat itu. Berbekal peta dan kompas, kami menuju Lombok Tengah dimana Kuta berada. Saat kami bertanya arah (masih di Mataram), semua bilang, “jauh sekali”. Dan hampir semua orang  mempertanyakan apakah kami hanya bepergian berdua. Mungkin masyarakat disini belum terbiasa dengan backpacker perempuan 😀 Sepanjang perjalanan, tak dapat dipungkiri terkadang aku meragukan kemampuan navigasi Nee, dan Nee sepertinya tahu hal itu, sehingga terdengar sedikit nada kesal ketika kami berargumen apakah harus belok kanan atau kiri, lurus atau belok dsb.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama 1,5 jam harus kami tempuh dalam 2 jam karena sering berhenti untuk bertanya dan memastikan arah.

Alhamdulilah, keindahan Kute membayar lunas plus bunga-bunganya rasa lelah dan panas yang menerpa kami. Kute Lombok itu indah…. Hamparan lautnya yang biru kehijauan, pasir putihnya yang unik seperti merica, dan langit biru bersaput awan putih… Cuaca yang cerah menambah kesempurnaan suasana kala itu. Air laut jadi tampak sangat jernih, langit biru sempurna! Semuanya padu, indah, subhannallah… Maha suci Allah yang menciptakan langit, bumi, beserta isinya….. Satu hal yang perlu diingat, jangan lupa memakai tabir surya dan kacamata hitam. Jangan sampai liburan yang asik ini terganggu dengan sunburn (dan peningkatan risiko melanoma maligna) serta risiko katarak XD Ombak disana cukup tenang, cukup aman bagi para pemula untuk berenang di laut. Tapi kalau tidak yakin, mending di tepi saja, soalnya tidak ada life guard alias penjaga pantai. Hehe…

Garis pantai Kute Lombok memang agak panjang. Namun tidak semuanya dapat kita akses karena telah dimiliki oleh resort-resort. Beruntung, kami bertemu dengan anak-anak penjual gelang dan kelapa muda sehingga kami “diijinkan” menikmati pantai milik hotel Novotel. Hehe.. kami bahkan sempat bermain volley bersama-sama di hamparan pasir putih berbulir-bulir. Matahari semakin meninggi, perut pun mulai keroncongan. Dan yang menjadi menu makan siang kali ini adalah….. kelapa muda! What a lunch! 😀

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai Seger. Pasir disini masih putih bersih, hanya saja tak lagi berbulir seperti merica. Ombaknya tenang, namun semakin sore semakin besar, sehingga para surfer biasanya memulai surfing disini sekitar pukul 16. Segarnya… airnya bersih, dari kejauhan tampak biru kehijauan. Pingin banget nyemplung tapi tidak ada tempat ganti.  Disini kami bertemu dengan pemuda-pemuda iseng. Hati-hati bagi para cewek yang bepergian tanpa teman. Orang-orang /pemuda Lombok Tengah memang memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan orang-orang yang kami temui di Mataram. Disini kami lebih sering mendapatkan sapaan iseng.

Pantai di Lombok tiada habisnya untuk dinikmati. Bisa dikatakan, disetiap tikungan jalan kita bisa berhenti dan menikmati indahnya pantai…. Pantai terakhir yang kami kunjungi hari ini adalah Tanjung Aan (baca: Tanjung An). Beberapa kali aku dikoreksi karena menyebutnya sebagai Tajung A-an. Hehe..

Selain menikmati pantai, kami juga membeli cindera mata berupa kain tenun khas Sasak. Hati-hati…. Para penjual disini sangat lihai. Kami pun “terjebak” dalam perangkap. Hati kami yang mudah merasa iba ini luluh juga dengan keluh kesah mereka. Katanya sudah seminggu tidak ada pembeli—yang sangat masuk akal karena sedari tadi hanya kami pengunjung pantai, desa mereka yang jauh sehingga tidak dikunjungi turis, dll. Akhirnya kami membeli 2pcs kain tenun seharga @Rp 100 ribu, later we found out kain itu bisa dibeli seharga @Rp 60 ribu di desa adat Sade. Kali ini aku ikut-ikutan naïve…. Akhirnya kami menghibur diri bahwa ini adalah bentuk sedekah kami. Wkwkwkwkwk….

Sebelum pulang, kami mampir di desa adat Sade dan Masjid kuno Rembitan. Di Sade kami berkenalan dengan ibu Puri yang menjelaskan kain tenun, adat, dan juga kehidupan disana. Sayang seribu sayang kami tidak punya uang cash! ATM BNI di Kuta begitu saja kami lewati alias lupa… sehingga kami tidak bisa berbelanja  Uang terakhir yang aku miliki sudah aku masukkan ke kotak donasi sewaktu kami mengisi guestbook di pintu masuk desa adat.

Di Masjid Rembitan kami diterima oleh bapak penjaga Masjid yang sudah cukup berumur. Masjid ini mempunyai arsitektur yang khas dengan pintu masuk rendah, dimaksudkan agar orang yang memasuki masjid menunduk, menghormati tempat ibadah ini. Sayangnya, bahasa yang kami gunakan agak roaming. Saya tidak begitu mengerti apa yang dijelaskan bapaknya. Selain aksen, bapak tersebut memang sudah sepuh, jadi kata-kata beliau juga tidak begitu jelas terdengar.

Masjid Kuno Rembitan sudah jarang digunakan, hanya untuk hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sebenarnya penjaga masjid bilang kalau kami bisa sholat ashar disitu, tapi kami tak tega XD Lantai masih berupa tanah, udara yang cukup lembab dan penerangan yang kurang memadai menjadi alasan kami. Ditambah, melihat ‘mantan’ tempat wudhu di depan masjid yang berupa ceruk di bawah pohon beringin dengan air hijau kehitaman ditaburi daun beringin di atasnya… Nyamuk Anopheles pasti senang bertelur disitu  Akhirnya kami mencari masjid di sepanjang perjalanan pulang. Gampang-gampang susah, memang banyak masjid sih, tapi kebanyakan berada di dalam pondok pesantren dan kami tidak tahu apakah orang boleh masuk ke lingkungan pondok sembarangan. Finally, we got one.. disana banyak anak mengaji, suasananya benar-benar menenangkan. Dan kami sepakat bahwa setiap masjid itu sejuk.

Glukosa dalam darah semakin rendah, semakin sulit konsentrasi. Cara mengendarai motorku semakin tak karuan. Banyak lubang di jalan yang gagal aku hindari sehingga mengakibatkan goncangan vertebra yang cukup dahsyat, utamanya bagi orang yang kubonceng 😀 Bekal roti mari yang tinggal sedikit rupanya tak mampu meningkatkan gula darah secara signifikan. Dan kami pun memutuskan mampir warung di tepi jalan. Apa daya, menu yang benar2 available adalah pop mie… tahan lapar sedikit lagi! Alhamdulilah, pukul setengah 5 kami sampai juga di kota Mataram.. Proper food, finally… Yeay!! Meskipun cuma nasi goreng 😀

Rencana kami malam itu adalah mengembalikan motor sambil mencari tahu rute perjalanan kami selanjutnya (Gili Trawangan) tapi ada daya badan sudah tak kuat. Karena jam 9 malam Tri belum pulang dari besuk tetangga di RS, kami pun tanpa sadar tertidur pulas tanpa memasukkan motor dalam garasi XD

Traveling

Awesome Trip – Lombok Day 1

Senin, 26 Maret 2012

“Senpai, ayo cepetan!” ajakku pada Mas Fajar yang sedang merapikan jaketnya.  Sudah pukul 8 kurang 10, dan kami belum berangkat.  Sementara untuk mencapai stasium Tawang diperlukan kurang lebih 30 menit, dan keretaku berangkat jam 08.30. Duh!  Tentu saja akhirnya Mas Fajar ngebut.  Tas berat di punggung tak lagi kurasa, aku hanya berharap cepat sampai dan tak ketinggalan kereta.

“Ayo cepet mbak, 10 menit lagi kereta berangkat!” Kata penjaga karcis parkir.  Sedikit lega karena belum tertinggal kereta, aku segera berlari masuk stasiun dan mencari sosok Nira, teman seperjalananku itu.  Panik, aku tidak melihat Nira.  “Nee, dimana kamu?” bisiku sembari menelponya.  Ternyata dia duduk di bangku depanku tapi agak jauh.

“Alhamdulilah..” seru kami setelah berhasil duduk di bangku kereta.  Sayangnya tidak ada adegan gentleman yang membantu kami menaruh tas di tempatnya (di atas kepala).  Untunglah, setelah 6 tahun di FK, kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Hihi..  Tak berhenti sampai disitu ternyata.  Unyar menelpon, dia ada di stasiun.  Kami pun turun kembali untuk mengucap salam perpisahan yang tidak seberapa lama karena penjaga stasiun memarahi kami agar cepat masuk kereta.  Maaf 😀

Sepanjang perjalanan di kereta ber-AC (angin cepoi2) itu kami bercerita.  Empat jam perjalanan tak pernah sepi dari perbincangan.  Maklum, sudah lama tak bersua.  Nee, sapaan akrab untuk Nira, selama ini berada di Bogor dan aku sendiri baru saja selesai komprehensif di Slawi.  Kurang lebih pukul 12.45 kami sampai di stasiun Pasar Turi, Surabaya.  Niat kami, kami akan membeli tiket pulang dulu sebelum meninggalkan stasiun.  Tetapi melihat antrian yang mengular, seketika membuat kami berubah pikiran.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik bus menuju Terminal Bungur Asih, terminal terbesar di Surabaya.  Sebelum menuju terminal, kami melaksanakan sholat dhuhur yang tak lupa dijamak qashar.  Nee berargumen bahwa, jika Allah telah memberi keringanan dan kita tidak memakainya, kita akan dicap sombong oleh Allah SWT. Wallahualam 🙂

Di dalam bus menuju terminal itu, kami mengobrol dengan seorang cewek yang pernah pula backpacking ke Lombok untuk mendaki gunung Rinjani.  Wow, kami tak menyangka sama sekali karena wajah mbak itu terbilang mulus dan imut. Hehehe… sekali lagi, don’t look the book just from its cover!   Kami membayar 5000 untuk ongkos bus.  Next, kami naik bus DAMRI yang langsung menuju airport.  Bus shuttle bandara-terminal ini memang disediakan untuk mempermudah transportasi para traveler.  Cukup dengan merogoh kocek 15 ribu, kita akan dengan nyaman diantar sampai bandara (bus ber AC, ada tempat untuk luggage).  Tapi yang perlu diingat adalah waktu tempuh sekitar 45 menit sampai 1 jam.  Kalau jadwal check in mepet, ada alternatif berupa taksi (50 ribu) dan ojek (25 ribu).  Buat para penawar ulung, silakan saja nego harga. Hihi..

Sekitar pukul 15.30 kami menginjakkan kaki di Bandara Juanda – bandara yang mengklaim merupakan bandara terbersih se-Indonesia.  Begitu turun dari bus, yang pertama kami cari adalah troley, gak mau lama2 menggendong tas seberat 10 kg XD.  Setelah check ini dan kecewa karena penerbangan ditunda, kami nola-noli dibandara.  Bau harum semerbak ‘Roti Boy’ *maap nyebut merek* akhirnya mengalahkan tekad kami untuk mengurangi pengeluaran tak penting.  Roti hangat, perut lapar, dan tidak ada kerjaan sungguh kombinasi yang sempurna. Alhamdulilah..

Setelah ini akan kuceritakan sebuah tragedi yang sungguh dramatis, yang sayangnya sulit kupercaya.  Call me paranoid, but that’s I am!

Ketika itu aku meninggalkan Nee sendirian untuk mengambil ATM dan ke kamar mandi.  Akhirnya aku mengamini bahwa bandara Juanda adalah bandara terbersih se-Indonesia setelah melihat toiletnya. Bersih, wangi, dan ada hiasan bunga Krisan segar! Cantiknya….  Sekembalinya dari toilet, kutemukan Nee dengan wajah aneh, puzzled, kasihan, dan sedang menganalisis sesuatu.  Singkat cerita, ia baru saja berkenalan dengan sebuah keluarga yang berasal dari Banjarmasin.  Mereka terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan remaja, dan dua anak kecil laki-laki.  Mereka baru saja pulang dari liburan di Jogja.  Malang tak dapat ditolak, tas mereka yang berisi dompet, hp, dan tiket pesawat diambil orang.  Sesampainya di terminal, mereka bertemu dengan orang yang berniat “membantu” dengan meminjamkan ATMnya agar ditransfer uang oleh saudara Pak Banjar (sebut saja demikian) sebesar 1 juta.  Eh, ternyata orang tersebut juga penipu.  Setelah uang ditransfer, oknum tersebut kabur.  Telah tertipu 2x, mereka lapor polisi.  Polisi menyarankan agar mereka segera ke bandara dan mengurus tiket yang hilang.  Karena sudah expired, akhirnya tiket mereka hangus. Mereka akhirnya memilih bertahan di bandara karena di bandara relatif lebih aman, dan kalau mau pake toilet, gratis.  Tapi kini mereka sama sekali tidak punya uang, bahkan untuk makan.  Padahal mereka harus bertahan minimal sampai besok, karena sodara yang dari Jakarta akan menjemput.  Kasihan, tentu saja itu yang terbersit pertama kali di pikiranku.  Tapi dasar, aku kebanyakan nonton film detektif.  Banyak kejanggalan dalam cerita mereka.  Pertama, mengapa dompet ayah-ibu digabung?  Mengapa dengan mudah percaya pada orang untuk mentransfer uang? Padahal ada fasilitas western union, dan seribu pertanyaan lain…

Bagaimanapun, akhirnya kami memutuskan untuk membelikan mereka makanan saja.  Sebelum kami berpisah, Nee dan Pak Banjar bertukar nomer HP.  Alhamdulilah, akhirnya ada orang yang mau membantu keluarga tersebut. Cerita belum berakhir.  Setelah kami masuk dan menunggu boarding, Pak Banjar meminta bantuan untuk melihat jadwal kapal ke Banjarmasin / Balikpapan.  Sesudah kami berikan jadwalnya—Nee bawa laptop n modem—Pak Banjar sms kembali.  Bliau minta tolong pinjam uang 200 – 300 ribu. Eaaaaa…. Itu yang sedari tadi aku takutkan, UUD alias ujung-ujungnya duit.  Maaf, tapi kali ini paranoidku mengalahkan kebaikan hati Nee….

Alhamdulilah penerbangan Surabaya – Mataram berjalan mulus.  Pesawat take off pukul 19.30 WIB dan landing pukul 21.15 WITA.  Tak sempat berfoto-foto karena sudah malam, kami langsung menuju bus DAMRI.  Kembali Rp 15.000 kami keluarkan.  Bus shuttle hanya mengantar sampai PO, dari PO kami lanjutkan dengan taksi menuju rumah Tri, kawan SD yang kini tinggal di Mataram.

Pukul 11 malam kami tiba di Rumah Tri.  Sambutan yang hangat ia berikan meskipun awalnya agak kaku karena kami sudah lama tak bertemu 😀  Alhamdulilah (lagi-lagi), ayam taliwang menyambut perutku yang kosong.  Hihi, maap y Nee kamu cuma dapat sambel! Teman vegetarianku ini harus puas maem dengan ‘beberuk’ alias sambel tomat dengan kacang panjang saja malam itu. =D