Kesehatan · Microbiology

Vaksin MR (Measles Rubella)

Sebelum kita bahas vaksin MR yang sedang hangat-hangatnya dikampanyekan, ada baiknya kita tengok dulu apa itu measles dan rubella.  Saya pernah menulis tentang rubella, so, kali ini saya akan bahas tentang measles.

Measles, campak, rubeola, dabaken/gabaken, morbili adalah satu penyakit yang disebabkan oleh virus measles, dari keluarga paramyxovirus.  Virus ini sangat menular dan ditularkan melalui kontak langsung atau melalui udara.  Penyakit ini masih menyebabkan angka kematian yang tinggi pada anak-anak kecil di seluruh dunia, meskipun telah tersedia vaksin yang efektif dan aman.

Tanda dan gejela

Tanda awal campak adalah demam tinggi (seringkali lebih dari 40 derajat celsius), yang muncul pada hari ke 10 hingga 12 setelah terpapar virus, dan biasanya berlangsung selama 4 hingga 7 hari.  Gejala lain termasuk pilek, batuk, mata merah dan berair, serta titik putih kecil di dalam mulut (koplik’s spot).  Setelah beberapa hari, muncul ruam (merah, datar) yang biasanya dimulai dari wajah dan leher atas.  Setelah 3 hari, ruam menyebar dan akhirnya sampai tangan dan kaki.  Ruam ini bertahan kurang lebih selama 5-6 hari.

Sebagian besar kematian karena campak diakibatkan oleh komplikasi penyakit ini.  Komplikasi lebih sering terjadi pada anak kurang dari 5 tahun, atau pada orang dewasa lebih dari 20 tahun.  Komplikasi campak yang serius dapat berupa kebutaan, ensefalitis (infeksi pada otak), diare berat, infeksi telinga atau infeksi pernapasan (pneumonia).  Campak berat sering terjadi pada anak dengan kekurangan gizi, terutama dengan defisiensi vitamin A, atau orang dengan penurunan kekebalan tubuh (misalnya pada penderita HIV/AIDS atau penyakit lain).  Wanita yang terinfeksi saat hamil juga berisiko mengalami komplikasi berat dan kehamilannya dapat terganggu (mengakibatkan keguguran atau lahir prematur).  Orang yang telah terinfeksi campak dan sembuh, akan kebal seumur hidup.

Vaksin Campak

Sebelum diterapkannya program vaksinasi MR (measles rubella), pemerintah Indonesia telah menerapkan program vaksin campak (measles) untuk anak usia 9 bulan (gratis di puskesmas).  Vaksin campak ini telah digunakan sejak era 60an.  Vaksin ini aman, efektif dan tidak mahal.  Vaksin campak tersedia dalam bentuk tunggal, atau kombinasi measles-rubella (MR), measles-mumps-rubella (MMR), atau measles-mumps-rubella-varicella (MMRV).  Bentuk kombinasi sebelum kampanye vaksin MR ini bisa didapatkan di dokter anak, rumah sakit, atau rumah vaksin (tidak dibiayai pemerintah).

Kenapa sekarang diubah menjadi MR?  Berdasarkan hasil surveilans dan cakupan imunisasi, maka vaksinasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eleminasi campak.  Sedangkan untuk percepatan pengendalian rubella/campak Jerman/ congenital rubella syndrome maka diperlukan vaksinasi tambahan.  Vaksin MR ini akan diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun.  Kampanye awal vaksinasi ini akan dilakukan dalam dua fase yaitu fase I pada bulan Agustus – September 2017 di seluruh Pulau Jawa dan fase II pada bulan Agustus -September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi:

  1. http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs286/en/
  3. https://www.cdc.gov/measles/index.html
  4. https://www.cdc.gov/rubella/index.html

 

Kesehatan · Microbiology

Pengendalian Resistensi Antimikroba di Indonesia

Tulisan ini saya buat dalam rangka “Sayembara LPDP 2017”.  Namun pada menit-menit terakhir, essai ini saya ganti dan tidak jadi dikirim.  Daripada usang di laptop, akhirnya saya posting saja di sini, siapa tau bermanfaat.  Hehe….

 

Resistensi antimikroba merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur, virus, dan parasit) berubah dan menjadi kebal ketika mereka terpapar obat antimikroba (misalnya antibiotik, antijamur, antivirus, antimalaria, dan anticacing).  Resistensi antimikroba mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, parasit, virus dan jamur.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat.  Dampak dari resistensi antimikroba dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis, HIV, dan malaria), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.

 

Pemerintah Indonesia telah merespon masalah resistensi antimikroba ini dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI  nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resitensi Antimikroba (PPRA) di Rumah Sakit.  Namun, peraturan menteri ini hanya mencakup pengendalian resistensi di rumah sakit dan tidak mencakup pengendalian di masyarakat.  Strategi pengendalian resistensi antimikroba dapat dilakukan melalui dua hal yaitu: penggunaan antibiotik secara bijak dan pencegahan penyebaran mikroba resisten.  PPRA di rumah sakit telah terbukti berhasil meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional.  Dampak PPRA akan lebih nyata dan signifikan jika program ini diperluas hingga praktek dokter mandiri sehingga dokter-dokter di luar rumah sakit juga menggunakan antimikroba secara bijak.  Selain itu, diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatkan penggunaan antimikroba secara rasional.  Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia dapat dengan mudah membeli obat antimikroba dari apotek tanpa resep dokter.  Hal ini tentu saja akan memperbesar peluang munculnya mikroba yang resisten terhadap antimikroba.  Oleh karena itu diperlukan pula pelaksanaan aturan yang ketat dalam penjualan antimikroba di apotek.

 

Dari uraian di atas, diperlukan kerjasama semua pihak dalam melaksanakan program pengendalian resistensi antimikroba.  Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia harus menerapkan penggunaan antimikroba secara bijak dan mencegah penyebaran mikroba resisten.  Tak kalah penting, diperlukan pengawasan ketat terhadap penjualan obat antimikroba oleh apotek, dan diperlukannya edukasi kepada masyarakat tentang obat-obat antimikroba dan bahaya resistensi antimikroba.

 

Rujukan :

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
  2. Antimicrobial Resistance. http://www.who.int/antimicrobial-resistance/en/
  3. Hadi U, et al. Audit of antibiotic prescribing in two governmental teaching hospital in Indonesia. Clinical Microbiology and Infection : the official of the Eur Soc Clin Microb and Inf Dis 2009; 14(7): 698-707