Uncategorized

Masak ala anak rantau

Dari sekian banyak hal yang aku pelajari selama berada di negeri orang adalah memasak.  Ya, memasak masakan Indonesia.  Sesuatu yang dulu (malah) jarang aku lakukan di kampung halaman.  Kenapa jarang masak?  Ada ibu di rumah.  Hehe… Lagian banyak penjual masakan jadi (orang Jawa bilang “bakul matengan”), baik itu penjual keliling maupun warung-warung makan.  Pengin apa aja gampang dan murah serta insyaa Allah halal (pedagangnya tetangga sendiri, muslim).  Mie ayam, bakso, gorengan, siomay, tahu campur, nasi goreng, martabak, etc.  Sebutin sendiri deh, semuanya ada!!!  Semua berubah ketika negara api menyerang, eh salah, ketika sekolah di Belanda (lebih tepatnya desa Nijmegen).  Semua-mua enak masak sendiri.  Lha gimana, mau beli masakan Indonesia yang otentik harganya menguras kantong mahasiswaku, atau g jelas status halalnya.  Akhirnya aku mulai belajar memasak.  Alhamdulillah jaman sekarang ada cookpad.  Di situ ada berbagai macam resep dengan segala tingkat kesulitan.  Jadi tinggal pilih mau bikin yang simpel atau ekstra ribet.  Hehe… Kali ini aku ingin posting beberapa foto masakan yang sukses.  Cerita di balik masaknya kapan2 aku tulis 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Kesehatan

What is mumps?

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang measles dan rubella, dan rasanya kurang afdhol jika tidak menuliskan tentang Mumps, karena mereka selalu bersama dalam vaksin MMR. Hihihi….

Dalam bahasa Jawa, mumps (parotitis epidemica) disebut gondongen, sedangkan wong Londo menyebutnya bof.  Penyakit ini disebabkan oleh virus mumps (genus Rubulavirus, famili Paramyxovirus) dengan gejala-gejala :

  • demam
  • nyeri kepala
  • nyeri otot
  • rasa lelah/lesu
  • kehilangan nafsu makan
  • pembengkakan kelenjar ludah di bawah telinga–parotitis (sehingga pipi/rahang kelihatan menggembung)

Gejala biasanya timbul 16-18 hari setelah infeksi (kisaran 12-25 hari), dan biasanya bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri (self limiting disease).  Namun, pada beberapa kasus dapat mengakibatkan komplikasi berupa:

  • inflamasi pada testis (orchitis) pada pria; jarang terjadi tetapi dapat mengakibatkan kemandulan (infertilitas)
  • inflamasi/peradangan pada otak (ensefalitis): berkisar antara 0,02% – 0,3% kasus
  • inflamasi pada selaput otak (meningitis) : sebelum era vaksinasi kejadian meningitis karena mumps adalah 10% dari meningitis virus
  • inflamasi pada ovarium dan atau payudara (mastitis)
  • tuli saraf berat (jarang)

Saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk mumps.  Terapi dapat berupa istirahat, pemberian cairan yang cukup, dan obat penurun panas.  Penderita mumps bersifat infeksius (menularkan virus) sejak beberapa hari sebelum gejala muncul hingga 5 hari sesudah pembengkakan kelenjar ludah.

Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin yang telah tersedia sejak tahun 1967.  Lalu pada tahun 1971, vaksin mumps dikombinasikan dengan measles dan rubella menjadi vaksin MMR (measles-mumps-rubella).  Baru-baru ini (tahun 2005), vaksin cacar air (varicella, chickenpox) juga dikombinasikan dengan MMR menjadi MMRV.

Beberapa waktu lalu dunia medis dan para orang tua dibuat cemas dengan berita bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan inflammatory bowel disease, termasuk salah satunya adalah studi oleh Andrew Wakefield.  Artikel yang ditulis oleh Andrew Wakefield ini didiskreditkan dan ditarik pada 2010 (dan kemudian ia dicabut lisensinya) karena ia terbukti melakukan fraud (pemalsuan data).  Selain itu, penelitian selanjutnya (sistematik review) membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme (artikel asli dapat dibaca di sini).  Wallahu álam.

Bahan bacaan tambahan (FAQ):

http://www.immunize.org/catg.d/p4211.pdf

Sekian dan semoga bermanfaat!

 

 

Nijmegen, 24.07.2017

 

Kesehatan · Microbiology

Vaksin MR (Measles Rubella)

Sebelum kita bahas vaksin MR yang sedang hangat-hangatnya dikampanyekan, ada baiknya kita tengok dulu apa itu measles dan rubella.  Saya pernah menulis tentang rubella, so, kali ini saya akan bahas tentang measles.

Measles, campak, rubeola, dabaken/gabaken, morbili adalah satu penyakit yang disebabkan oleh virus measles, dari keluarga paramyxovirus.  Virus ini sangat menular dan ditularkan melalui kontak langsung atau melalui udara.  Penyakit ini masih menyebabkan angka kematian yang tinggi pada anak-anak kecil di seluruh dunia, meskipun telah tersedia vaksin yang efektif dan aman.

Tanda dan gejela

Tanda awal campak adalah demam tinggi (seringkali lebih dari 40 derajat celsius), yang muncul pada hari ke 10 hingga 12 setelah terpapar virus, dan biasanya berlangsung selama 4 hingga 7 hari.  Gejala lain termasuk pilek, batuk, mata merah dan berair, serta titik putih kecil di dalam mulut (koplik’s spot).  Setelah beberapa hari, muncul ruam (merah, datar) yang biasanya dimulai dari wajah dan leher atas.  Setelah 3 hari, ruam menyebar dan akhirnya sampai tangan dan kaki.  Ruam ini bertahan kurang lebih selama 5-6 hari.

Sebagian besar kematian karena campak diakibatkan oleh komplikasi penyakit ini.  Komplikasi lebih sering terjadi pada anak kurang dari 5 tahun, atau pada orang dewasa lebih dari 20 tahun.  Komplikasi campak yang serius dapat berupa kebutaan, ensefalitis (infeksi pada otak), diare berat, infeksi telinga atau infeksi pernapasan (pneumonia).  Campak berat sering terjadi pada anak dengan kekurangan gizi, terutama dengan defisiensi vitamin A, atau orang dengan penurunan kekebalan tubuh (misalnya pada penderita HIV/AIDS atau penyakit lain).  Wanita yang terinfeksi saat hamil juga berisiko mengalami komplikasi berat dan kehamilannya dapat terganggu (mengakibatkan keguguran atau lahir prematur).  Orang yang telah terinfeksi campak dan sembuh, akan kebal seumur hidup.

Vaksin Campak

Sebelum diterapkannya program vaksinasi MR (measles rubella), pemerintah Indonesia telah menerapkan program vaksin campak (measles) untuk anak usia 9 bulan (gratis di puskesmas).  Vaksin campak ini telah digunakan sejak era 60an.  Vaksin ini aman, efektif dan tidak mahal.  Vaksin campak tersedia dalam bentuk tunggal, atau kombinasi measles-rubella (MR), measles-mumps-rubella (MMR), atau measles-mumps-rubella-varicella (MMRV).  Bentuk kombinasi sebelum kampanye vaksin MR ini bisa didapatkan di dokter anak, rumah sakit, atau rumah vaksin (tidak dibiayai pemerintah).

Kenapa sekarang diubah menjadi MR?  Berdasarkan hasil surveilans dan cakupan imunisasi, maka vaksinasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eleminasi campak.  Sedangkan untuk percepatan pengendalian rubella/campak Jerman/ congenital rubella syndrome maka diperlukan vaksinasi tambahan.  Vaksin MR ini akan diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun.  Kampanye awal vaksinasi ini akan dilakukan dalam dua fase yaitu fase I pada bulan Agustus – September 2017 di seluruh Pulau Jawa dan fase II pada bulan Agustus -September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi:

  1. http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs286/en/
  3. https://www.cdc.gov/measles/index.html
  4. https://www.cdc.gov/rubella/index.html

 

Master study

Merajut Mimpi (2) : Mengurus Visa ke Belanda

Selangkah demi selangkah semakin mendekatkanku pada mimpiku untuk melanjutkan belajar ke negeri kincir angin.  Setelah kemarin (alhamdulillah) berhasil lolos beasiswa LPDP dan mendapatkan LoA dari Radboud University, kini saatnya mengurus visa.  Karena aku berencana akan berangkat bersama keluarga sejak awal, maka pengurusan visa ini menjadi sangat krusial.  Radboud University menggunakan jasa VisaCare+ system untuk mengurus visa mahasiswa internasional mereka.  Sekitar awal bulan Juni 2016 aku mendapat email untuk membuat akun pada website VisaCare+.  Dalam website tersebut terdapat panduan yang sangat mudah dan aku hanya perlu mengupload dokumen-dokumen yang diperlukan, yaitu:

  • Letter of acceptance (LoA)
  • Grand award letter (bagi yang mempunyai beasiswa) : aku menggunakan Letter of Guarantee (LOG) dari LPDP.  Bisa juga menggunakan LOS.
  • Agreement form for TB examination : kita tinggal download formulir dari website, print, isi, scan, upload.  Formulir ini menyatakan kita bersedia untuk melakukan pemeriksaan TB setibanya di Belanda.
  • Declaration of Criminal Record : donlot, print, isi, scan, upload.  Formulir ini adalah pernyataan bahwa kita tidak pernah terlibat tindakan kriminal.  Untunglah negara Belanda tidak mensyaratkan surat catatan kepolisian yang dikeluarkan oleh POLDA tempat kita tinggal.
  • Passport

Setelah semua dokumen diverifikasi, mereka akan mengirim email agar kita melakukan pembayaran.  Biayanya kurang lebih 311 euro.  Setelah kita melakukan pembayaran, mereka akan kirim berkas ke IND atau kantor imigrasi Belanda.  Yang bikin dag-dig-dug adalah disclaimer mereka “Please take into account that the total application procedure may take up to 6-8 weeks“.  Padahal setelah ini aku masih harus mengurus visa untuk keluarga dan tahun akademik baru sudah dimulai tanggal 29 Agustus.  Sport jantung takut kalau tidak bisa berangkat tepat waktu.  Later on I found out it actually doesn’t matter if we were a bit late from the start of the academic year!!!  Karena hari-hari pertama biasanya adalah introduction day baik dari universitas maupun dari fakultas.  Wkwkwkwk…

Alhamdulillah hanya butuh 19 hari kalender sejak pembayaran dan visaku (MVV/VVR) disetujui.  Saat itu tanggal 29 Juni 2016, tepat seminggu sebelum idul fitri 1437 H (2016)!  Aku harus gerak cepat karena sebentar lagi kedutaan Belanda juga akan libur lebaran.  Tanggal 1 Juli kami sekeluarga terbang ke Jakarta dari Semarang untuk mengurus visa (untuk anak dan suamiku).  Syarat MVV/VVR untuk suami dan anak sedikit lebih rempong: (1) Paspor, (2) Akta Lahir masing-masing anggota keluarga, (3) Buku Nikah, (4) Formulir pengajuan MVV, formulir sponsor, agreement for TB exam, dan declaration of criminal record yang dapat didownload dari web IND, (5) Proof of Financial Means, (6) Pas Foto 3×4 sesuai ketentuan.  Akta lahir dan buku nikah harus dilegalisir sampai ke kedutaan Belanda.  Setiap poin dari syarat ini punya kisah sendiri.  Alhamdulillah, walaupun repot tapi semua lancar.  Mulai dari pengurusan paspor yang kini bisa online (bayangin dulu aku bikin paspor tahun 2007 masih harus antri manual dan bersaing dengan calo prosesional!!! hiks), akta lahirku dan suami yang harus diperbaharui sebelum dilegalisasi (terima kasih disdukcapil Semarang yang sudah oke pelayanannya), drama legalisasi buku nikah di KUA, proof of financial means dengan segala perjuangannya, dan foto sore-sore sehari sebelum berangkat ke Jakarta sampai harus memohon mbak-mbak tukang foto untuk lembur supaya foto kami langsung jadi (terima kasih mbak!).  Alhamdulillah 1000x.  Beberapa tips untuk poin-poin di atas:

Paspor

Pengajuan pembuatan paspor dapat dilakukan secara online.  Keterangan lengkap dapat dibaca di sini.

Akta lahir yang telah dilegalisasi

Akta lahir wajib untuk anak yang akan dibawa serta, sedangkan untuk pasangan sebenarnya opsional.  Karena aku orangnya cari aman, jadi semua akta lahir aku legalisasi.  Akta lahir tidak boleh berumur lebih dari 5 tahun, maka aktaku dan suami harus diperbaharui terlebih dahulu.  Kami datang ke dispendukcapil membawa akta lahir lama dan KTP, setelah itu isi formulir.  Kurang lebih 5 hari kerja akta baru kami telah siap.  Alhamdulillah semua lancar, karena ada juga teman yang punya pengalaman mendapat kesulitan saat pengurusan akta baru.  Katanya, harus ada surat keterangan dari embassy baru mereka mau membuatkan akta baru. *sebenarnya tidak lancar-lancar amat sih, karena ternyata akta suami hilang!!  Kami harus mengurus dulu surat kehilangan di kantor kepolisian sebelum dapat meminta diterbitkannya akta baru. Wkwkwkwk…

Buku Nikah yang telah dilegalisasi

Untuk legalisasi akta lahir dan buku nikah, aku hanya melakukannya sendiri sampai dispendukcapil (untuk akta lahir) dan KUA (untuk buku nikah).  Legalisasi selanjutnya (kementrian agama, kemenkumham, dan kedubes Belanda) aku menggunakan jasa legalisasi.  Cukup mahal, aku habis kurang lebih 3,5 juta rupiah (3 akta lahir @800ribu dan 1 buku nikah 1 juta rupiah).  Tetapi kalau dihitung-hitung masih lebih murah dan praktis dibandingkan mengurus sendiri (tiket Semarang-Jakarta PP, transportasi dan akomodasi selama di Jakarta, plus aku ga paham seluk beluk Jakarta) dan waktu itu aku masih bekerja jadi enggak enak kalau sering izin sebelum resign.

Formulir-formulir

Formulir-formulir yang diperlukan dapat kita download sendiri dari website IND dan kita lengkapi di rumah.  Tapi kalau misal kita belum mengisi, pihak kedutaan akan memberikan formulir tersebut dan kita tinggal isi di sana.  Saya sendiri sudah donlot semua formulir dan ketika sampai di kedubes tinggal menyerahkan sehingga prosesnya cepat.

Proof of financial means

Bagi penerima beasiswa, dapat menyerahkan letter of sponsorship atau letter of guarantee dari pemberi beasiswa.  Namun alangkah baiknya jika kita dapat menyertakan surat keterangan bank dan print out rekening koran 3 bulan terakhir dengan saldo kurang lebih = (jumlah keluarga yang dibawa x 1200 euro x 12 bulan), untuk memperkecil kemungkinan pengajuan MVV ditolak. *tidak ada sumber resmi angka ini, ini kesimpulan hasil riset saya dari berbagai blog, website IND, dan kata teman-teman.  Tentu saja kami tidak mempunyai uang sebanyak itu.  Namun alhamdulillah, kami punya keluarga dan teman-teman yang amat sangat baik yang mau meminjamkan uang mereka untuk “parkir” di rekening saya selama 3 bulan.  Jazakumullah khairan katsiran!!!!

Pas Foto

Pengambilan foto sebaiknya dilakukan oleh fotografer profesional yang sudah hafal kriteria foto untuk visa.  Kami sendiri foto di Kurnia Photo Ungaran saya sebut merek sebagai bentuk terima kasih atas kebaikan mbak fotografer yang mau lembur supaya foto kami langsung jadi, padahal waktu itu menjelang magrib di 10 hari terakhir bulan Ramadhan).

 

Semua syarat sudah aku susun rapi dan ketika kami sampai di kedutaan, alhamdulillah semua lengkap dan kamipun melakukan pencatatan biometrik.  Tinggal dag-dig-dug lagi nunggu hasilnya karena ada yang bilang proses pengurusan bisa saja sampai 6 minggu. Hehe… Setelah kurang lebih 14 hari kerja kami mendapat email untuk melakukan pembayaran,  dan 3 hari berikutnya kabar baik itupun datang.  Alhamdulillah, MVV suami dan anak disetujui!!!!  Insya Allah berangkat bersama-sama ke Belanda 🙂

 

Uncategorized

Merajut Mimpi (1)

Alhamdulillah… Tak terasa sudah 10 bulan aku berada di Belanda untuk menempuh pendidikan master dengan beasiswa LPDP.  Sudah sejak lama aku ingin menulis tentang kisahku tapi tak kunjung terlaksana.  Beberapa sempilan tulisanku tentang beasiswa bisa dibaca di sini.  Okay, kita mulai saja ya 🙂

———————————–***————————————–

 

Sejak lulus kuliah dokter di tahun 2012, aku sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan master.  Aku ingin menempuh jalur riset karena melanjutkan pendidikan spesialis langsung teramat mahal bagiku.  Waktu itu belum ada atau baru akan ada beasiswa dokter spesialis dari LPDP.  Qadarullah, aku mendapatkan pekerjaan menjadi research assistant di sebuah jejaring penelitian infeksi, INA-RESPOND, sehingga keinginan untuk sekolah aku tunda.  Saat itu aku berpikir, aku harus menabung untuk persiapan sekolah sekaligus membantu orang tua.  Karena selama sekolah di FK Undip, tak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh orang tuaku.  Saat bekerja di INA-RESPOND site RS dr. Kariadi itu pulalah aku mendapatkan putri kecilku yang sudah kami nanti-natikan kehadirannya.  Another reason to postpone my study!  Sampai akhirnya di tahun 2015 ketika aku merasa sudah tak bisa berkembang sebagai RA dan anakku sudah lebih dari satu tahun, aku memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP.

Waktu itu pembukaan beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) LPDP dilakukan 4 kali dalam setahun.  Aku mendaftar pada batch IV 2015.  Berbekal riset dari blog-blog yang menulis tentang beasiswa LPDP dan bertanya kepada teman-teman yang sudah lolos terlebih dahulu, serta yang utama adalah berdoa kepada Allah, aku mendaftar dengan ketar-ketir karena belum mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari Universitas yang aku tuju.  Pokoknya bismillah… Alhamdulillah satu per satu fase seleksi aku lalui, mulai dari seleksi administrasi hingga wawancara (seleksi wawancara terdiri dari verifikasi dokumen, leaderless group discussion, on the spot essay writing, dan wawancara itu sendiri).  Setelah itu aku fokus pada pencarian LoA yang harus dimulai dari IELTS.  Ya, untuk mendaftar beasiswa LPDP aku hanya menggunakan TOEFL ITP yang tesnya lebih murah.  Dahulu peraturannya masih memungkinkan, tapi untuk saat ini (mulai tahun 2016 kalau tidak salah), untuk pendaftar beasiswa LN (baik S2 maupun S3) harus sudah mempunyai sertifikat IELTS dengan skor minimal 6.5.  Perjuangan belajar IELTS secara mandiri juga tidaklah mudah.  Aku harus meluangkan waktu diantara jam kantor dan mengasuh anak balita agar dapat fokus belajar.  Alhamdulillah… hanya karena Allah lah aku bisa dapat skor 7.5 dalam sekali tes (dengan nilai reading 8.5 dari 9).  Jadi translator jurnal sewaktu koass ternyata ada hikmahnya. Hihi… (Later I find out nilai IELTS segitu tidak menjamin “bebas hambatan” dalam berbahasa Inggris.  Kisahnya dapat dibaca di sini).

Setelah IELTS beres, barulah aku mendaftar ke Radboud University.  Jurusan yang aku pilih adalah microbiology di bawah Faculty of science.  Kenapa tidak memilih yang di bawah fakultas kedokteran?  Jawabannya, tidak ada jurusan microbiology.  Sedangkan yang ditawarkan oleh faculty of science adalah balance antara environmental micro and medical micro.  Menarik bukan?  Program ini juga menawarkan 2 kali internship masing-masing berdurasi 6 bulan, sehingga kita punya kesempatan mendalami bidang yang kita sukai, atau mencoba keduanya.  Setelah melalui proses yang panjang mulai dari seleksi administratif hingga wawancara skype, alhamdulillah aku diterima!!!  Perjuangan baru pun dimulai……  Ya, perjuangan baru untuk mempersiapkan keberangkatan.

Aku berencana berangkat beserta keluarga (suami dan anak), sehingga membutuhkan usaha ekstra sebelum berangkat.  Visaku diurus oleh kampus, yang menjadi PR tinggal visa anak dan suami.  Kisahnya akan kutulis lain kali.  Singkat cerita, pada pertengahan bulan Agustus kami sampai di kota Nijmegen, Belanda.  Kami sengaja berangkat sebelum perkuliahan dimulai (awal tahun ajaran baru adalah 1 September, tapi tahun lalu dimulai tanggal 29 Agustus karena bertepatan dengan hari Senin) agar ada waktu untuk beradaptasi.  Alhamdulillah, berkat bantuan banyak orang yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, it was a smooth transition.  Kami tidak mengalami cultural shock atau stress hingga saat ini.  Mungkin juga karena di Belanda banyak teman-teman Indonesia, ada komunitas muslim, mudah menemukan bahan makanan Indonesia, dst.  Alhamdulillah… 1000x

Tak terasa sudah 10 bulan, compulsory course sudah selesai, 1 review thesis sudah selesai, satu internship hampir selesai… Sebentar lagi dan akan selesai.  Pulang atau lanjut S3? Hanya waktu yang akan menjawabnya…..  Mohon doanya 🙂

 

LKI lab, waktu di antara running eksperimen

29.06.2017

Uncategorized

Notes from Nijmegen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…..

Beberapa waktu lalu sekretariat INA-RESPOND (tempat dulu aku berkerja) meminta kepada para ex-RA nya untuk menulis tentang kegiatan mereka saat ini.  Cerita ini kemudian dimuat dalam monthly newsletter INA-RESPOND.  Sepertinya lumayan juga untuk di-repost di blog. Hehe…. Supaya enggak dua kali nulis 🙂

*************************

Dr Indri Hapsari  (INA-RESPOND RA from Semarang site: 8 July 2013 – 2 July 2016)

dr Indri was with the INA-RESPOND AFIRE study team for quite some time. She’s also one of our most reliable RAs. Where is she now? She’s writing us from The Netherlands!

Hi everyone!  I’m so excited to get an email from the INA-RESPOND Secretariat.  Honestly, I miss the routine I did as an RA, and most importantly, I miss the Secretariat personnel!  I’m doing great here. I’m taking Microbiology Master Program in Radboud University Nijmegen, the Netherlands. This is a completely new journey for me and my family (I’m taking my husband and daughter). Having my family here makes me feel secure and comfortable.

As for my academic life, I have to make a lot of efforts to stay ahead as it has been quite a while since the last time I was in school, but guess what… I’ve got the highest score for my last compulsory course (host-microbe interaction/immunology)!  Right now I’m undertaking an internship in the Laboratory of Pediatric Infectious Disease, Radboud University Medical Center; working on Streptococcus pneumoniae. I feel like I’m the PI,
the RA, the Lab Technician, and also the Data Manager all at once!

My experiences as an RA in INA-RESPOND study have helped me a lot in conducting my research. I have become familiar with organizing sample, collecting data, and doing administrative stuff. In addition, working with people from various backgrounds is no longer an issue for me. Of course, there is a different academic culture between here and in Indonesia. I don’t feel too much hierarchy and have more egalitarian. Currently I’m working in a lab, doing the ‘dirty job’ as well as being a PI who has to fully understand why I did this and that (but definitely I’m supervised all the time).
I hope I can continue my study and get my PhD in the future, and perhaps, collaborate with INA-RESPOND someday! See you soon!

 

newsletter

Uncategorized

Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan menjadi kebal ketika terpapar obat antibiotik1.  Resistensi antibiotik mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat2.  Dampak dari resistensi antibiotik dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis dan sepsis), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.  Continue reading “Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia”