Kesehatan

What is mumps?

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang measles dan rubella, dan rasanya kurang afdhol jika tidak menuliskan tentang Mumps, karena mereka selalu bersama dalam vaksin MMR. Hihihi….

Dalam bahasa Jawa, mumps (parotitis epidemica) disebut gondongen, sedangkan wong Londo menyebutnya bof.  Penyakit ini disebabkan oleh virus mumps (genus Rubulavirus, famili Paramyxovirus) dengan gejala-gejala :

  • demam
  • nyeri kepala
  • nyeri otot
  • rasa lelah/lesu
  • kehilangan nafsu makan
  • pembengkakan kelenjar ludah di bawah telinga–parotitis (sehingga pipi/rahang kelihatan menggembung)

Gejala biasanya timbul 16-18 hari setelah infeksi (kisaran 12-25 hari), dan biasanya bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri (self limiting disease).  Namun, pada beberapa kasus dapat mengakibatkan komplikasi berupa:

  • inflamasi pada testis (orchitis) pada pria; jarang terjadi tetapi dapat mengakibatkan kemandulan (infertilitas)
  • inflamasi/peradangan pada otak (ensefalitis): berkisar antara 0,02% – 0,3% kasus
  • inflamasi pada selaput otak (meningitis) : sebelum era vaksinasi kejadian meningitis karena mumps adalah 10% dari meningitis virus
  • inflamasi pada ovarium dan atau payudara (mastitis)
  • tuli saraf berat (jarang)

Saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk mumps.  Terapi dapat berupa istirahat, pemberian cairan yang cukup, dan obat penurun panas.  Penderita mumps bersifat infeksius (menularkan virus) sejak beberapa hari sebelum gejala muncul hingga 5 hari sesudah pembengkakan kelenjar ludah.

Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin yang telah tersedia sejak tahun 1967.  Lalu pada tahun 1971, vaksin mumps dikombinasikan dengan measles dan rubella menjadi vaksin MMR (measles-mumps-rubella).  Baru-baru ini (tahun 2005), vaksin cacar air (varicella, chickenpox) juga dikombinasikan dengan MMR menjadi MMRV.

Beberapa waktu lalu dunia medis dan para orang tua dibuat cemas dengan berita bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan inflammatory bowel disease, termasuk salah satunya adalah studi oleh Andrew Wakefield.  Artikel yang ditulis oleh Andrew Wakefield ini didiskreditkan dan ditarik pada 2010 (dan kemudian ia dicabut lisensinya) karena ia terbukti melakukan fraud (pemalsuan data).  Selain itu, penelitian selanjutnya (sistematik review) membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme (artikel asli dapat dibaca di sini).  Wallahu álam.

Bahan bacaan tambahan (FAQ):

http://www.immunize.org/catg.d/p4211.pdf

Sekian dan semoga bermanfaat!

 

 

Nijmegen, 24.07.2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s