Uncategorized

Merajut Mimpi (1)

Alhamdulillah… Tak terasa sudah 10 bulan aku berada di Belanda untuk menempuh pendidikan master dengan beasiswa LPDP.  Sudah sejak lama aku ingin menulis tentang kisahku tapi tak kunjung terlaksana.  Beberapa sempilan tulisanku tentang beasiswa bisa dibaca di sini.  Okay, kita mulai saja ya 🙂

———————————–***————————————–

 

Sejak lulus kuliah dokter di tahun 2012, aku sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan master.  Aku ingin menempuh jalur riset karena melanjutkan pendidikan spesialis langsung teramat mahal bagiku.  Waktu itu belum ada atau baru akan ada beasiswa dokter spesialis dari LPDP.  Qadarullah, aku mendapatkan pekerjaan menjadi research assistant di sebuah jejaring penelitian infeksi, INA-RESPOND, sehingga keinginan untuk sekolah aku tunda.  Saat itu aku berpikir, aku harus menabung untuk persiapan sekolah sekaligus membantu orang tua.  Karena selama sekolah di FK Undip, tak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh orang tuaku.  Saat bekerja di INA-RESPOND site RS dr. Kariadi itu pulalah aku mendapatkan putri kecilku yang sudah kami nanti-natikan kehadirannya.  Another reason to postpone my study!  Sampai akhirnya di tahun 2015 ketika aku merasa sudah tak bisa berkembang sebagai RA dan anakku sudah lebih dari satu tahun, aku memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP.

Waktu itu pembukaan beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) LPDP dilakukan 4 kali dalam setahun.  Aku mendaftar pada batch IV 2015.  Berbekal riset dari blog-blog yang menulis tentang beasiswa LPDP dan bertanya kepada teman-teman yang sudah lolos terlebih dahulu, serta yang utama adalah berdoa kepada Allah, aku mendaftar dengan ketar-ketir karena belum mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari Universitas yang aku tuju.  Pokoknya bismillah… Alhamdulillah satu per satu fase seleksi aku lalui, mulai dari seleksi administrasi hingga wawancara (seleksi wawancara terdiri dari verifikasi dokumen, leaderless group discussion, on the spot essay writing, dan wawancara itu sendiri).  Setelah itu aku fokus pada pencarian LoA yang harus dimulai dari IELTS.  Ya, untuk mendaftar beasiswa LPDP aku hanya menggunakan TOEFL ITP yang tesnya lebih murah.  Dahulu peraturannya masih memungkinkan, tapi untuk saat ini (mulai tahun 2016 kalau tidak salah), untuk pendaftar beasiswa LN (baik S2 maupun S3) harus sudah mempunyai sertifikat IELTS dengan skor minimal 6.5.  Perjuangan belajar IELTS secara mandiri juga tidaklah mudah.  Aku harus meluangkan waktu diantara jam kantor dan mengasuh anak balita agar dapat fokus belajar.  Alhamdulillah… hanya karena Allah lah aku bisa dapat skor 7.5 dalam sekali tes (dengan nilai reading 8.5 dari 9).  Jadi translator jurnal sewaktu koass ternyata ada hikmahnya. Hihi… (Later I find out nilai IELTS segitu tidak menjamin “bebas hambatan” dalam berbahasa Inggris.  Kisahnya dapat dibaca di sini).

Setelah IELTS beres, barulah aku mendaftar ke Radboud University.  Jurusan yang aku pilih adalah microbiology di bawah Faculty of science.  Kenapa tidak memilih yang di bawah fakultas kedokteran?  Jawabannya, tidak ada jurusan microbiology.  Sedangkan yang ditawarkan oleh faculty of science adalah balance antara environmental micro and medical micro.  Menarik bukan?  Program ini juga menawarkan 2 kali internship masing-masing berdurasi 6 bulan, sehingga kita punya kesempatan mendalami bidang yang kita sukai, atau mencoba keduanya.  Setelah melalui proses yang panjang mulai dari seleksi administratif hingga wawancara skype, alhamdulillah aku diterima!!!  Perjuangan baru pun dimulai……  Ya, perjuangan baru untuk mempersiapkan keberangkatan.

Aku berencana berangkat beserta keluarga (suami dan anak), sehingga membutuhkan usaha ekstra sebelum berangkat.  Visaku diurus oleh kampus, yang menjadi PR tinggal visa anak dan suami.  Kisahnya akan kutulis lain kali.  Singkat cerita, pada pertengahan bulan Agustus kami sampai di kota Nijmegen, Belanda.  Kami sengaja berangkat sebelum perkuliahan dimulai (awal tahun ajaran baru adalah 1 September, tapi tahun lalu dimulai tanggal 29 Agustus karena bertepatan dengan hari Senin) agar ada waktu untuk beradaptasi.  Alhamdulillah, berkat bantuan banyak orang yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, it was a smooth transition.  Kami tidak mengalami cultural shock atau stress hingga saat ini.  Mungkin juga karena di Belanda banyak teman-teman Indonesia, ada komunitas muslim, mudah menemukan bahan makanan Indonesia, dst.  Alhamdulillah… 1000x

Tak terasa sudah 10 bulan, compulsory course sudah selesai, 1 review thesis sudah selesai, satu internship hampir selesai… Sebentar lagi dan akan selesai.  Pulang atau lanjut S3? Hanya waktu yang akan menjawabnya…..  Mohon doanya 🙂

 

LKI lab, waktu di antara running eksperimen

29.06.2017

Advertisements
Uncategorized

Notes from Nijmegen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…..

Beberapa waktu lalu sekretariat INA-RESPOND (tempat dulu aku berkerja) meminta kepada para ex-RA nya untuk menulis tentang kegiatan mereka saat ini.  Cerita ini kemudian dimuat dalam monthly newsletter INA-RESPOND.  Sepertinya lumayan juga untuk di-repost di blog. Hehe…. Supaya enggak dua kali nulis 🙂

*************************

Dr Indri Hapsari  (INA-RESPOND RA from Semarang site: 8 July 2013 – 2 July 2016)

dr Indri was with the INA-RESPOND AFIRE study team for quite some time. She’s also one of our most reliable RAs. Where is she now? She’s writing us from The Netherlands!

Hi everyone!  I’m so excited to get an email from the INA-RESPOND Secretariat.  Honestly, I miss the routine I did as an RA, and most importantly, I miss the Secretariat personnel!  I’m doing great here. I’m taking Microbiology Master Program in Radboud University Nijmegen, the Netherlands. This is a completely new journey for me and my family (I’m taking my husband and daughter). Having my family here makes me feel secure and comfortable.

As for my academic life, I have to make a lot of efforts to stay ahead as it has been quite a while since the last time I was in school, but guess what… I’ve got the highest score for my last compulsory course (host-microbe interaction/immunology)!  Right now I’m undertaking an internship in the Laboratory of Pediatric Infectious Disease, Radboud University Medical Center; working on Streptococcus pneumoniae. I feel like I’m the PI,
the RA, the Lab Technician, and also the Data Manager all at once!

My experiences as an RA in INA-RESPOND study have helped me a lot in conducting my research. I have become familiar with organizing sample, collecting data, and doing administrative stuff. In addition, working with people from various backgrounds is no longer an issue for me. Of course, there is a different academic culture between here and in Indonesia. I don’t feel too much hierarchy and have more egalitarian. Currently I’m working in a lab, doing the ‘dirty job’ as well as being a PI who has to fully understand why I did this and that (but definitely I’m supervised all the time).
I hope I can continue my study and get my PhD in the future, and perhaps, collaborate with INA-RESPOND someday! See you soon!

 

newsletter