Uncategorized

Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan menjadi kebal ketika terpapar obat antibiotik1.  Resistensi antibiotik mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat2.  Dampak dari resistensi antibiotik dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis dan sepsis), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal. 

Salah satu penyebab munculnya resistensi antibiotik adalah selective pressure atau tekanan selektif terhadap bakteri akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional.  Seperti kita ketahui, infeksi virus tidak membutuhkan antibiotik dan pemberian antibiotik dapat berakibat munculnya bakteri yang resisten.  Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit3.  Program ini terbukti mampu menurunkan angka penggunaan antibiotik yang tanpa dasar pada rumah sakit-rumah sakit pendidikan (rumah sakit besar).  Namun, program ini belum dilaksanakan secara optimal di rumah sakit-rumah sakit daerah.  Dokter terkadang merasa tidak percaya diri dan takut melewatkan adanya infeksi bakteri pada pasien sehingga meresepkan antibiotik.  Hal ini dapat dikurangi dengan penggunaan uji cepat (rapid test) CRP (C reactive protein).  CRP merupakan protein fase akut yang menunjukkan adanya peradangan.  Secara garis besar, hasil CRP yang tinggi mengarah pada infeksi bakteri sedangkan hasil CRP yang rendah menunjukkan infeksi virus.  Dengan pemeriksaan CRP ini, dokter dapat dengan percaya diri tidak meresepkan antibiotik pada pasien dengan infeksi virus.

Telah banyak penelitian dan meta-analisis yang mendukung penggunaan CRP untuk membedakan infeksi bakterial atau viral dan menjadi pedoman untuk pemberian antibiotik4,5.  Hal ini dapat pula diterapkan di Indonesia, utamanya di rumah sakit-rumah sakit daerah atau puskesmas karena pemeriksaan ini cepat, mudah dan relatif murah.  Selanjutnya, diperlukan penelitian untuk menilai cost-effectiveness dari pemeriksaan CRP sebagai pedoman dalam pemberian antibiotik kepada pasien dengan infeksi.  Dengan pemeriksaan CRP ini diharapkan penggunaan antibiotik menjadi lebih rasional dan menurunkan tekanan selektif pada bakteri dan pada akhirnya menurunkan atau memperlambat laju resistensi antibiotik di Indonesia.

 

Rujukan

  1. WHO | Antimicrobial resistance. WHO (2016).
  2. Howard, S. J. et al. Antibiotic resistance: global response needed. Lancet. Infect. Dis. 13, 1001–3 (2013).
  3. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. 5, (2013).
  4. Do, N. T. T. et al. Point-of-care C-reactive protein testing to reduce inappropriate use of antibiotics for non-severe acute respiratory infections in Vietnamese primary health care: a randomised controlled trial. Lancet. Glob. Heal. 4, e633-41 (2016).
  5. Simon, L., Gauvin, F., Amre, D. K., Saint-Louis, P. & Lacroix, J. Serum Procalcitonin and C-Reactive Protein Levels as Markers of Bacterial Infection: A Systematic Review and Meta-analysis. Clin. Infect. Dis. 39, 206–217 (2004).

 

Disclaimer : Essai ini dibuat dalam rangka mengikuti sayembara LPDP 2017.  Karena waktu pembuatan yang sangat mepet (kurang dari 3 hari) dan ada pembatasan wordcount, pembahasan topik ini menjadi sangat singkat….

Referensi tambahan :

Antimicrobial resistance in Indonesia

https://www.google.nl/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&ved=0ahUKEwj_jOT_gZrUAhXOJFAKHZL9D10QFgg8MAM&url=https%3A%2F%2Frepub.eur.nl%2Fpub%2F17713%2F091215_Lestari%2C%2520Endang%2520Sri%2520%26%2520Severin%2C%2520Juliette%2520Astrid.pdf&usg=AFQjCNFdFfVj66zmaAYSpPKeC4ROGrzwaQ&sig2=m214-YQRNhLvND_CRStSwQ

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s