Uncategorized

Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan menjadi kebal ketika terpapar obat antibiotik1.  Resistensi antibiotik mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat2.  Dampak dari resistensi antibiotik dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis dan sepsis), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.  Continue reading “Uji Cepat Infeksi Bakteri untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik di Indonesia”

Advertisements
Uncategorized

Sweet Memory

Malam ini panas sekali, 25 derajat serasa 32 derajat! Tapi Alhamdulillah… musim semi menjelang musim panas, suhu naik artinya heater bisa dimatikan dan tidak was-was tagihan energi membengkak. Well, tapi kali ini tulisanku tidak akan membahas mahalnya energi di negeri ini.

 

Aku teringat suatu kenangan.  Kala itu panas seperti ini hingga aku susah tidur, dan aku sedang menginap di rumah Budheku di Demak. Saat itu menjelang tahun baru entah tahun berapa.  Awalnya aku berencana hanya menginap satu malam kemudian pulang. Eh malah Budheku menahanku, minta aku bermalam 1 hari lagi dengan alasan masih banyak kuliner yang belum aku cicipi. Benar juga sih, saat menginap di sana, tak pernah aku merasa lapar. Makan inilah, jajan itulah…  Tapi aku bertekad bulat untuk pulang karena sudah ada janji dengan temanku, temanku akan menginap di rumah saat malam tahun baru.  Budheku masih bersikeras agar aku stay semalam lagi. Kalah melobi, akhirnya aku SMS Bapak.  Aku hanya bilang belum boleh pulang, tapi aku ingin pulang.   Tak berapa lama, Budhe bilang kalau Bapak menelpon beliau dan menyuruhku pulang.  Budhe pun penuh selidik mengintrogasiku… “Kamu bilang Bapakmu to supaya telpon Budhe?”  Kami pun tertawa bersama-sama.  Bapak sungguh pengertian, tahu kalau aku pasti kalah diplomasi dengan Budhe.  Dan aku pun tahu, Budhe pasti mendengarkan omongan adiknya tersayang. Hehe…  Jari kelingking kalah dengan jari telunjuk, tapi jari telunjuk kalah dengan jempol!

 

Ternyata memoriku dengan Bapak bukanlah saat aku wisuda sarjana atau wisuda dokter, karena beliau sudah tiada sebelum aku menjadi apa-apa.  Namun kenangan-kenangan kecil inilah yang ternyata menjadi harta karunku…..  Semoga Allah merahmatimu, mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahmu, dan mengumpulkan kita semua di surgaNya kelak. Aamiin…

 

Beliaulah (beserta Ibuku tentu saja) yang mendidikku menjadi perempuan yang tangguh.  “Perempuan tidak boleh hanya bisa menangis!”.  Aku boleh menangis, tapi aku juga harus pandai mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah…. Sebelum mengenal istilah women empowerment, aku sudah belajar hal itu dari beliau.  Alhamdulillah, kedua anak perempuan Bapak menjadi wanita yang berdaya.  Semoga kelak kami juga mampu meneruskan ajaran ini.  Menjadi wanita yang berdaya sekaligus mampu menjaga martabat pria (suaminya).  Itulah yang selalu beliau ajarkan.  Aku akan selalu mengenangmu, Pak. Kenangan-kenangan kecil nan indah selama 21 tahun kita bersama…..

 

11.03 pm, 17 Mei 2017

8 tahun 55 hari sejak kita berpisah