Academic · Uncategorized

Academic Writing: Tips and Resources

Well, akhir-akhir ini aku sangat aktif nge-blog.  Bukan karena aku g ada kerjaan ya (haha.. takut amat dikatain pengangguran).  Hanya saja, setelah ku tengok-tengok, banyak juga tulisan di laptop yang mungkin bisa berguna bagi orang lain.  Jadi mohon maaf kalo topik tulisannya sangat random, mulai dari catatan perjalanan, essai, seputar kesehatan, dan kali ini tentang tips menulis akademik dalam bahasa Inggris.  Disclaimer: saya bukan ahli bahasa, bukan pula ahli menulis akademik.  Saya hanya share materi dari Nijmegen Centre for Academic Writing, Radboud University, tempat dimana saya belajar saat ini.

Berbekal nilai IELTS yang lumayan, saya merasa cukup tenang dengan kemampuan bahasa Inggris saya.  Later I found out, ternyata salah besar sodara-sodara!  Saat dihadapkan pada tugas menulis, baik itu essay, project proposal, atau thesis, saya masih sangat kesulitan.  Kesulitan itu biasanya berupa bagaimana menuliskan kembali materi yang sudah saya baca dengan kalimat saya sendiri (rephrasing), bagaimana membuat tulisan yang punya alur agar mudah dipahami (coherence), serta masalah klasik, grammar.  Huhu… Karena keterbatasan waktu untuk belajar bahasa Inggris di tengah tuntutan akademik yang aduhai, akhirnya saya datang ke Centre for Academic Writing.  Di sana saya diskusi dengan mentor (bukan dosen) tentang kendala yang saya hadapi.  Mereka menekankan bahwa mereka bukan guru bahasa dan bukan proof reader.  Jadi saya datang membawa tulisan yang sudah saya buat, dibahas sedikit (karena hanya dikasih 30 menit satu sesi), dan dikasih “jalan keluar” berupa tips dan resources untuk belajar academic writing, sendiri!!! Hihihi…. Pada akhirnya saya memang harus invest waktu.  Nah, disini saya mau berbagi resources tersebut.  Semoga ada manfaatnya :

*Grammar Issues

Punya masalah dengan grammar?  Sama! Hehe…  Tips nya adalah gunakan satu buku grammar atau website untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang kita cari, over and over again.  Lama-lama akan hafal juga kan?  Kalau ada waktu, dan memang harus diusahakan ada waktu, bisa ikut english course (tatap muka ataupun online).  Ini list beberapa website yang bisa digunakan sebagai references:

The Purdue Online Writing Lab (OWL)

Englishpage.com

*General resources untuk academic writing

Academic Phrasebank

Website ini membantu banget untuk penulisan artikel ilmiah, terutama untuk mengutip sumber-sumber yang kita gunakan agar tidak disebut plagiat.  Disediakan berbagai contoh berbagai frase untuk mengklasifikasikan, membandingkan, memberi contoh, etc.  Bagaimanapun, kita perlu menyesuaikan contoh frase2 tersebut agar sesuai konteks tulisan kita.

Sumber-sumber lain

Masih kurang banyak sumbernya?  Okay, nih aku kasih list website yang bisa kamu kunjungi untuk improve academic writing!  Semoga sukses!!! 🙂

Academic skill, the University of Melbourne

Using English for Academic Purposes

RMIT writing skill

 

Traveling

Travel Backpack Sisterhood

Kisah ini bermula di tahun 2008, ketika aku melakukan my very first travel abroad.  Waktu itu aku masih berada di bangku SD (sekolah dokter) dan terpilih sebagai perwakilan NGO dari Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Europe Young Volunteer Exchange di Bangkok, Thailand.  Tas dalam foto ini yang menemaniku dalam perjalanan yang penuh kenangan itu, dan nantinya juga menemaniku dalam banyak petualangan berikutnya.

Kala itu, hujan mengguyur kota Semarang di malam keberangkatanku menuju Jakarta untuk kemudian bertolak ke Bangkok.  Seperti biasa ketika hujan turun, banjir atau rob menerjang sebagian wilayah Semarang, termasuk stasiun Tawang.  Aku yang diantar rombongan keluarga sudah ditunggu sahabatku (blognya ada di sini) di ruang tunggu keberangkatan.  Kami memang sudah janjian, karena aku mau pinjam “tas doraemon” alias tas slempang kecil yang bisa diisi macem-macem.  Dia memang beruntung karena punya segalanya (hahaha.. lebay sih) dan aku juga sangat beruntung karena punya dia 😀  Setelah chit chat sebentar, terungkaplah fakta bahwa aku mau ke luar negri tapi tidak bawa kamera.  Di jaman Majapahit waktu itu memang belum ngetrend smartphone atau digital camera karena harganya yang selangit…  Jadilah Nokia Supernova berkameranya pindah ke tanganku, agar aku bisa sekadar selfie dengan Raja Thailand katanya. Hihihi…..

Petualangan di Thailand dan Vietnam (2008) menjadi petualangan pertamaku bersama si Marabunta (tas hitam itu baru saja kunamai).  Tas ini atas izin Allah berada di tanganku setelah sekian lama menabung dari hasil memberikan les dan menjadi camp leader dalam sebuah (atau beberapa) work camp.  Tak pernah kusangka, setahun berikutnya aku kembali berpetualang, kali ini di Eropa.  Bersama Marabunta aku backpacking di lima negara, dan sebagai kenang-kenangan aku sematkan bendera negara-negara tersebut pada bagian atas tas ini (tapi aku lupa masang bendera Indonesia 😦 Kalau kamu baca dan sempet, tolong dipasangin ya plissss).

Tak berhenti di situ, petualangan berlanjut di Indonesia.  Kali ini aku berkesempatan berpetualang bersama sahabatku itu mengunjungi tempat-tempat eksotis di Nusantara.  Lombok, Malang, Sempu, dan Bromo kami kunjungi di sela-sela kesibukan kami sebagai calon dokter.  Awesome!!!!

P1010050
Lombok, 2012

Kini Marabunta kuserahkan pada sahabatku itu, sahabat yang rela memberikan apa saja untuk mendukungku….  Kehadiran si tas hitam itu pasti lebih bermakna di tangannya yang hobi muncak.  Suatu senja di kota Jogja di tahun 2016, aku berikan tas tersebut dengan penuh rasa haru.  Bagaimana tidak, Marabunta telah memberikan warna pada masa mudaku, mulai dari travelling hingga jualan duren!  Selamat berpetualang bersama tuan baru, Marabunta!  Tuan yang akan menggunakanmu to the fullest!!  InsyaaAllah kita akan bertemu lagi dan kembali berpetualang bersama, aku, kamu dan dia 🙂 *lengkap beserta pasangan dan buntut masing-masing tentunya….

DSC00841
Foto di Sempu, Juni 2013
IMG-20161127-WA0004
Petualangan baru dengan owner baru, Gunung Merapi, 2016

Nijmegen, 06 April 2017