Beasiswa · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 1

Bismillahirahmanirrahiiiim….

Semoga dalam penulisan essay ini saya dijauhkan dari segala sifat sombong dan ujub. Saya hanya ingin share pengalaman saya dalam menulis essay untuk mendapatkan beasiswa LPDP.  Semoga bermanfaat 🙂

 

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi / komunitas saya

Sejak berada di bangku kuliah, saya telah aktif di kegiatan ekstra kurikuler baik di dalam maupun di luar kampus.  Di dalam kampus misalnya, saya aktif di organisasi AMSA (Asian Medical Student Association) dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).  Di luar kampus, saya pun aktif di organisasi kerelawanan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan IIWC (Indonesia International Work Camp).  Kegiatan kerelawanan yang saya tekuni di luar kampus juga berkaitan erat dengan bidang kesehatan.  Di MER-C saya dahulu aktif sebagai asisten dokter yang membantu kegiatan klinik kesehatan di daerah Bandarharjo—sebuah daerah di pesisir kota Semarang yang sebagian besar penduduknya kurang mampu.  Klinik ini melayani pasien miskin (dahulu Jamkesmas atau saat ini BPJS-PBI) dengan biaya sangat murah dan bagi pasien lansia, pengobatannya digratiskan.

Saya bergabung dengan IIWC sejak tahun 2006 hingga tahun 2009.  Selama itu saya mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan diantaranya workcamp atau kemah bakti di berbagai tempat, baik sebagai peserta maupun sebagai camp leader.  Sasaran workcamp IIWC adalah pemberdayaan warga miskin, perbaikan pendidikan dan kesehatan.  Kegiatan workcamp yang saya ikuti antara lain dilaksanakan di kota Bantul, Yogyakarta, pasca gempa 2006 untuk membantu utamanya anak-anak memulihkan kondisi psikologi; di daerah Tegalsari Kab. Semarang yang merupakan sebuah area prostitusi, untuk melakukan penyuluhan kesehatan bagi para PSK dan bagi anak-anak yang tinggal di daerah tersebut; dan di daerah Gunungsari Kota Semarang, sebuah area dengan banyak sekali anak-anak jalanan dimana tugas kami adalah mengurangi waktu mereka berada di jalanan (jika saya tulis mengentaskan mereka dari jalanan, tampaknya target yang terlalu muluk-muluk untuk sebuah kegiatan yang berlangsung dua minggu) serta melakukan penyuluhan terkait penyakit tuberkulosis, karena daerah Gunungsari adalah daerah endemik tuberkulosis.

Dari IIWC itu pulalah, saya berkesempatan menjadi perwakilan relawan muda Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Europe Young Volunteer Exchange 2008 yang dilaksanakan di Bangkok.  Di sana saya mempresentasikan proposal saya mengenai rumah baca di area prostitusi Tegalsari, yang menjadi cikal bakal terbentuknya Komunitas Rumah Baca di Tegalsari.

Saat ini saya bekerja untuk INA-RESPOND (Indonesia Research Partnership on Infectious Diseases) sebagai asisten penelitian.  Jejaring ini bertujuan untuk melakukan penelitian dasar dan klinis, meningkatkan pemahaman tentang patogenesis penyakit, serta mencegah dan mengobati penyakit menular berdasarkan prioritas Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada akhirnya diharapkan agar hasil penelitian dari jejaring ini akan memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan membangun kapasitas penelitian berkelanjutan di Indonesia.    Meskipun kecil, saya yakin turut berkontribusi dalam pengembangan penelitian kesehatan di Indonesia.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, masih menghadapi persoalan klasik di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi. Berdasarkan data WHO di tahun 1998, penyakit infeksi berkontribusi terhadap lebih dari 45% kematian di negara ASEAN.  Seperti diketahui, infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit. Di sinilah peran ilmu mikrobiologi klinik dalam penanganan penyakit infeksi.  Mikrobiologi berperan dalam identifikasi penyebab infeksi sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi dan dicegah penyebarannya.

Setelah nantinya mendapatkan gelar master dari bidang mikrobiologi, saya berencana menjadi seorang dokter klinisi di bidang mikrobiologi klinik dan peneliti (dengan menjadi dosen dan melanjutkan spesialisasi Mikrobilogi Klinik) utamanya melakukan riset mengenai tuberkulosis (TB).  Indonesia merupakan negara dengan insiden TB tertinggi ketiga di dunia pada tahun 2014.  Hal ini membutuhkan perhatian khusus dan dibutuhkan penelitian-penelitian yang mendukung diagnosis, pengobatan, serta pencegahan penularan TB di Indonesia.

Saya berharap di masa depan bangsa Indonesia dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik dengan salah satunya pengendalian penyakit infeksi utamanya penyakit tuberkulosis, yang saat ini angka mortalitas dan morbiditasnya masih tinggi.

PS : Essai part 2 dan part 3 bisa dilihat disini dan disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s