Kesehatan · Microbiology

Pengendalian Resistensi Antimikroba di Indonesia

Tulisan ini saya buat dalam rangka “Sayembara LPDP 2017”.  Namun pada menit-menit terakhir, essai ini saya ganti dan tidak jadi dikirim.  Daripada usang di laptop, akhirnya saya posting saja di sini, siapa tau bermanfaat.  Hehe….

 

Resistensi antimikroba merupakan salah satu masalah global yang juga dihadapi oleh Indonesia.  Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur, virus, dan parasit) berubah dan menjadi kebal ketika mereka terpapar obat antimikroba (misalnya antibiotik, antijamur, antivirus, antimalaria, dan anticacing).  Resistensi antimikroba mengancam efektivitas pencegahan dan terapi berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, parasit, virus dan jamur.  Ancaman ini begitu besar dan semakin serius terhadap kesehatan masyarakat dalam skala global sehingga membutuhkan tindakan oleh pemerintah dan masyarakat.  Dampak dari resistensi antimikroba dapat berupa kegagalan pengobatan berbagai macam penyakit infeksi (misalnya tuberkulosis, HIV, dan malaria), terancamnya kesuksesan tindakan operasi besar yang membutuhkan antibiotik sebagai pencegahan infeksi (profilaksis), dan penurunan efektivitas kemoterapi pada penderita kanker.  Selain itu, biaya layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien dengan infeksi yang resisten juga jauh lebih tinggi dibanding biaya pasien tanpa infeksi resisten dikarenakan durasi sakit yang lebih lama, dibutuhkannya pemeriksaan tambahan, serta penggunaan obat-obatan yang lebih mahal.

 

Pemerintah Indonesia telah merespon masalah resistensi antimikroba ini dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI  nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resitensi Antimikroba (PPRA) di Rumah Sakit.  Namun, peraturan menteri ini hanya mencakup pengendalian resistensi di rumah sakit dan tidak mencakup pengendalian di masyarakat.  Strategi pengendalian resistensi antimikroba dapat dilakukan melalui dua hal yaitu: penggunaan antibiotik secara bijak dan pencegahan penyebaran mikroba resisten.  PPRA di rumah sakit telah terbukti berhasil meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional.  Dampak PPRA akan lebih nyata dan signifikan jika program ini diperluas hingga praktek dokter mandiri sehingga dokter-dokter di luar rumah sakit juga menggunakan antimikroba secara bijak.  Selain itu, diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatkan penggunaan antimikroba secara rasional.  Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia dapat dengan mudah membeli obat antimikroba dari apotek tanpa resep dokter.  Hal ini tentu saja akan memperbesar peluang munculnya mikroba yang resisten terhadap antimikroba.  Oleh karena itu diperlukan pula pelaksanaan aturan yang ketat dalam penjualan antimikroba di apotek.

 

Dari uraian di atas, diperlukan kerjasama semua pihak dalam melaksanakan program pengendalian resistensi antimikroba.  Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia harus menerapkan penggunaan antimikroba secara bijak dan mencegah penyebaran mikroba resisten.  Tak kalah penting, diperlukan pengawasan ketat terhadap penjualan obat antimikroba oleh apotek, dan diperlukannya edukasi kepada masyarakat tentang obat-obat antimikroba dan bahaya resistensi antimikroba.

 

Rujukan :

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
  2. Antimicrobial Resistance. http://www.who.int/antimicrobial-resistance/en/
  3. Hadi U, et al. Audit of antibiotic prescribing in two governmental teaching hospital in Indonesia. Clinical Microbiology and Infection : the official of the Eur Soc Clin Microb and Inf Dis 2009; 14(7): 698-707
Uncategorized

Tips Belajar IELTS

Bismillaahirrahmaanirrahiim….

Beberapa waktu lalu setelah saya posting tentang kumpulan soal-soal IELTS dan TOEFL, ada beberapa teman yang menanyakan tips bagaimana caranya belajar IELTS.  Setelah sekian lama, barulah sekarang bisa menuliskan cara belajar ala saya. Hihi… Siapalah saya ini… Hanya sekedar sharing saja.  Jika cocok, silakan dipakai.  Jika tidak, silakan temukan metode yang paling cocok denganmu 🙂  Karena pada dasarnya tidak ada metode yang ampuh untuk semua orang.  Without further ado, here we go :

  1. Niat

Innamal a’malu binniyat (amal itu tergantung niatnya).  Karena saya seorang muslim, saya niatkan belajar IELTS ini karena Allah SWT.  Jika nilainya bagus, alhamdulillah.  Kalau masih jelek, insyaa Allah masih mendapat pahala karena sudah berusaha.  Nah, niat ini juga harus dijabarkan dalam bentuk tindakan.  Bersungguh-sungguh dalam belajar, meluangkan waktu khusus barang sejam dua jam dalam sehari adalah salah satu bentuk niat.  Jika ingin nilai bagus tapi waktu belajarnya masih kalah lama dibanding waktu yang dihabiskan untuk melihat facebook atau instagram, ya belum niat namanya. Hehehe..

2.  Berdoa

Mintalah izin kepada pemilik segala ilmu, Allah SWT.  Banyak yang menuliskan berdoa dibagian akhir tipsnya.  Bagi saya, berdoa ini penting.  Jika Allah mengizinkan, insyaa Allah segalanya jadi mudah.  Belajar lebih gampang, waktu walaupun sempit tapi sempat (digunakan untuk belajar).

3.  Kumpulan soal atau materi belajar

Mempunyai kumpulan soal latihan yang memadai itu penting.  Karena dari materi-materi tersebut kita dapat mengetahui seluk beluk IELTS (peraturan tes, bentuk soal, dll) dan materi apa saja yang perlu kita dalami.  Biasanya dalam kumpulan soal juga terdapat tips and tricks bagaimana mendapatkan nilai IELTS yang tinggi.  Contoh soal-soal IELTS dapat dilihat disini, atau bisa googling sendiri 🙂  Mempunyai kumpulan soal itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah MEMPELAJARI nya.  Sebaiknya, download satu kumpulan soal, belajar/kerjakan hingga tuntas, baru cari kumpulan soal yang lain.  Mendownload sekaligus biasanya berakibat materi hanya tertumpuk di laptop. Hehe… *pengalaman pribadi*

4.  Banyak Latihan

Bagi saya latihan dibagi dua macam, cara cepat dan cara lambat.  Cara cepat digunakan kalau waktu sudah mepet dan harus segera ambil tes.  Cara cepat ini dengan drilling.  Mau tidak mau harus banyak belajar soal, kerjakan, dinilai.  Diulang-ulang terus.  Listening bisa dilakukan dimana saja, sambil menunggu bis, ketika ada rehat sebentar, dll.  Gadget adalah saran ampuh dan praktis untuk belajar listening.  Untuk speaking, bisa meminta teman untuk mendengarkan, atau kita ngomong dan direkam.  Speaking harus benar-benar dilatih dengan ngomong, tidak bisa hanya melihat contoh-contoh speaking.  Untuk reading dan writing, sebaiknya meluangkan waktu khusus untuk ini karena kita butuh konsentrasi untuk membaca dan menulis.  Tips-tips yang lebih spesifik, insyaa Allah nanti akan saya tuliskan dalam tulisan yang berbeda.

Selanjutnya adalah cara lambat.  Cara lambat dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.  Membaca koran atau media online berbahasa Inggris (the Jakarta Post, BBC, the Guardian, dll), membaca jurnal ilmiah, menonton acara televisi (jika suka), dan banyak berinteraksi dengan orang lain menggunakan bahasa Inggris.  Jika membaca media online atau buku berbahasa Inggris, baca dulu semuanya, kira-kiralah artinya tanpa membuka  kamus atau google translate.  Setelah kita kira-kira, baru tandai kata-kata sulit, cari artinya, catat, dan buatlah kalimat baru dengan kata-kata tersebut.  Kemampuan memahami konteks tulisan tanpa tahu semua kata-kata yang ada di tulisan itu sangat penting, karena tidak mungkin kita paham semua kosakata yang nantinya muncul di soal.  Dengan melakukan hal ini, kosakata kita akan semakin luas dan kemampuan memahami tulisan juga meningkat 🙂  Saya sendiri belajar bahasa Inggris dari membaca jurnal ilmiah.  Sejak jaman koass (dokter muda) saya sering menerima order terjemahan.  Alhamdulillah, ada hikmahnya menjadi translator walaupun bayarannya tak seberapa. Hehehe….

5.  Tawakal

Setelah berdoa dan berusaha dengan tekun, yang bisa kita lakukan adalah tawakal.  Apapun hasilnya, jangan berhenti belajar.  Jika bagus, alhamdulillah, kita bisa lanjut untuk belajar ilmu yang lain.  Jika belum bagus, ulangi lagi dan belajar lebih keras.  Tetap semangat dan keep smile 🙂

 

PS: Bagi yang waktunya sempit alias sibuk, jangan berkecil hati.  Saat mengambil tes IELTS ini, posisi saya masih bekerja fulltime dan mempunyai anak balita.  Alhamdulillah masih bisa mendapat nilai yang baik.  When there’s a will, there’s a way…

 

 

 

Beasiswa · LPDP · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 3

Seri terakhir dari essai beasiswa LPDP.  The most unattractive one, study plan.  However, I hope this essay can be an example to make your own study plan.  The first essay about “Kontribusiku Bagi Indonesia” can be seen here, and the second one about “Kesuksesan Terbesar Dalam Hidupku” is here.

 

RENCANA STUDY

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menghadapi persoalan ganda di bidang kesehatan, yaitu penyakit menular yang masih tinggi di satu sisi, serta tren meningkatnya penyakit tidak menular di sisi yang lain. Berdasarkan data WHO dan World Bank di tahun 2000, penyakit infeksi berkontribusi terhadap 43% global burden of diseases—yaitu keseluruhan pengaruh penyakit dan cedera pada tingkat individu, tingkat sosial, atau pengaruh ekonomi dari suatu penyakit.  Seperti diketahui, infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit. Di sinilah peran ilmu mikrobiologi klinik dalam penanganan penyakit infeksi.  Mikrobiologi berperan dalam identifikasi penyebab infeksi sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi dan dicegah penyebarannya.

Saya berencana mengambil studi master spesialisasi-Mikrobiologi pada Fakultas Sains di Radboud University Nijmegen, Belanda. Topik utama dalam spesialisasi mikrobiologi ini adalah Mikrobiologi Lingkungan dan Bioteknologi, Imunologi, dan Mikrobiologi Molekuler.  Program ini memiliki beban 120 European Credit Transfer Systems (ECTS) yang ditempuh selama 2 tahun dengan komponen sebagai berikut:

  1. Kuliah wajib (15 ECTS)
  • Pendahuluan dan Orientasi Mikrobiologi
  • Fisiologi dan Metabolisme Mikroba
  • Mikrobiologi Lingkungan dan Bioteknologi
  • Struktur dan Fungsi Sel Mikroba
  • Interaksi Host-Mikroba
  1. Internship Penelitian (36 ECTS)
  2. Internship Penelitian Kedua (36 ECTS)
  3. Thesis (12 ECTS)
  4. Mata Kuliah Elektif (18 ECTS) : dalam mata kuliah elektif ini saya berencana akan mengambil topik (masing-masing topik bernilai 3 ECTS) :
  • Advanced Endocrinology
  • Laboratory Animal Science
  • Research Skills
  1. Kuliah Filosofi (3 ECTS)

 

Internship penelitian salah satunya akan saya lakukan di Radboud University atau Radboud university medical center (Radboud UMC), sedangkan internship yang lain, jika memungkinkan ingin saya lakukan di Indonesia.   Mengingat saya akan kembali ke Indonesia, alangkah baiknya jika dalam masa studi ada penelitian yang saya lakukan di sini sehingga saya lebih mengenal medan yang akan saya hadapi nanti.

Saya sangat tertarik dengan topik ketiga program ini yaitu Mikrobiologi Molekuler.  Banyak pertanyaan misalnya: bagaimana mikroorganisme dapat bertahan dalam tubuh manusia dan bagaimana mereka menyebabkan penyakit; bagaimana regulasi genetik mikroorganisme tersebut sehingga bersifat patogen; dapatkah genom mikroba membantu kita menentukan bagaimana mikroorganisme berinteraksi dengan sel host manusia—yang ingin saya ketahui jawabannya.  Untuk topik tesis, saya sangat tertarik dengan Mycobacterium tuberculosis, patogen yang bertanggung jawab atas penyakit tuberkulosis (TB).  Saya berharap dengan berfokus pada mikrobiologi molekuler kuman Mycobacterium tuberculosis, saya dapat meneliti mekanisme resistensi kuman ini terhadap antibiotik dan mencegah atau mengatasi resistensi tersebut.  Terapi yang efektif merupakan strategi yang paling baik untuk mencegah penularan penyakit tuberkulosis.

Untuk kegiatan di luar perkuliahan, saya berencana mengikuti organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Nijmegen (PPI Nijmegen).  Saya berharap dengan mengikuti organisasi ini, dapat meningkatkan komunikasi dengan pelajar-pelajar Indonesia lain yang sedang menempuh pendidikan di sana dan pada akhirnya menumbuhkan semangat belajar dan nasionalisme.

Saya pernah tinggal di Nijmegen selama 3 bulan pada tahun 2009 saat mengikuti International Health Course.  Pada waktu itu saya menemukan komunitas, yang meskipun tidak mempunyai nama resmi, melakukan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian.  Bagi saya yang seorang muslim, kegiatan ini sangat penting dan membantu menyegarkan keimanan saya yang seringkali menghadapi tantangan selama tinggal di negara Belanda yang terkenal sangat bebas.

Beasiswa · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 2

Essai beasiswa LPDP ini terdiri dari 3 bagian.  Bagian pertama tentang “Kontribusiku Bagi Indonesia”.  Bagian kedua adalah “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”.  Essai ini sangat sulit karena definisi sukses itu sangat relatif.  So, ini definisi suksesku ketika akan melamar beasiswa. Hihihi…

 

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

“Bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri.” ― Jamie Winship

Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pedesaan, menjadikan saya pribadi yang sederhana.  Namun tidak begitu halnya soal cita-cita.  Saya bercita-cita menjadi seorang dokter dan peneliti.  Dokter di mata saya adalah profesi yang mulia dan sangat bermanfaat bagi banyak orang.  Di desa  saya tidak ada dokter kala itu, dan banyak sekali tetangga yang terlambat mencari pertolongan medis dikarenakan faktor biaya ataupun ketidaktahuan.  Dari situlah tumbuh benih cita-cita untuk menjadi dokter.  Walaupun banyak orang yang meragukan dari segi finansial—karena orang tua saya hanya guru SD yang berpenghasilan pas-pasan—saya tidak pernah menghapus mimpi itu.  Bahkan keraguan orang-orang terdekat semakin memperkuat tekad dan doa agar saya dapat masuk pendidikan dokter.  Berkat izin Allah, pada tahun 2005 saya diterima di Fakultas Kedokteran Undip Semarang.

Merasa sangat bersyukur karena telah diterima di fakultas idaman, saya terus berusaha mencapai prestasi akademik maupun non akademik.  Alhamdulillah, IPK saya tidak pernah kurang dari angka 3 dan beberapa kali mendapat prestasi di bidang penulisan ilmiah dan lomba debat bahasa Inggris.  Tidak berhenti sampai di sini, saya pun aktif di kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa dan kegiatan kerelawanan di luar kampus.  Saya aktif di organisasi MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) cabang Semarang—organisasi yang memberikan bantuan medis dan kemanusiaan dalam skala nasional maupun internasional—dan Indonesia International Work Camp—organisasi kerelawanan internasional yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan.  Karena aktif di organisasi kerelawanan itu pulalah yang membawa saya terpilih sebagai duta Indonesia dalam ajang Asia-Europe Young Volunter Exchange 2008, yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand.  Dalam kegiatan tersebut saya mengajukan proposal untuk pendirian rumah baca di daerah Tegalsari Kabupaten Semarang, yang menjadi cikal bakal komunitas rumah baca di sana.

Di setiap fase kehidupan pasti ada ujian. Di tahun 2009, ketika saya mendapat beasiswa untuk menempuh International Health Course di Nijmegen, Belanda, ayah  berpulang ke Rahmatullah.  Suatu pukulan yang berat karena beliau tiada ketika saya tidak ada di sisi beliau.  Namun, ibu dan kakak saya yang menguatkan dan mendorong saya untuk terus maju dan melanjutkan course saya selama 3 bulan.  Dengan motivasi mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orang tua, akhirnya saya berhasil menjadi salah satu dari dua peraih nilai tertinggi dalam ujian tertulis course tersebut.

Pada tahun 2012, saya lulus sebagai dokter dengan predikat cumlaude.  Saya bertekad mengabdikan diri bagi kemajuan kesehatan dan dunia riset di Indonesia, utamanya di bidang infeksi—sebuah bidang yang sangat saya minati sejak mengikuti International Health Course.  Bagaikan gayung bersambut, saat itu ada kesempatan untuk menjadi asisten penelitian di INA-RESPOND (Indonesia Research Partnership on Infectious Diseases) site RSUP dr. Kariadi Semarang.

INA-RESPOND adalah jejaring penelitian yang berfokus pada bidang infeksi, sebuah permasalahan besar dalam bidang kesehatan nasional. Tujuan jejaring ini adalah untuk melakukan penelitian dasar dan klinis, meningkatkan pemahaman tentang patogenesis penyakit, serta mencegah dan mengobati penyakit menular berdasarkan perhatian negara dan sejalan dengan prioritas Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada akhirnya diharapkan agar hasil penelitian dari jejaring ini akan memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan membangun kapasitas penelitian berkelanjutan di Indonesia.  Sebuah tujuan mulia yang sesuai dengan cita-cita saya, menjadi seorang dokter dan peneliti.

 

*essai ketiga tentang rencana studi bisa dilihat disini

Beasiswa · Uncategorized

Essai Beasiswa – Part 1

Bismillahirahmanirrahiiiim….

Semoga dalam penulisan essay ini saya dijauhkan dari segala sifat sombong dan ujub. Saya hanya ingin share pengalaman saya dalam menulis essay untuk mendapatkan beasiswa LPDP.  Semoga bermanfaat 🙂

 

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi / komunitas saya

Sejak berada di bangku kuliah, saya telah aktif di kegiatan ekstra kurikuler baik di dalam maupun di luar kampus.  Di dalam kampus misalnya, saya aktif di organisasi AMSA (Asian Medical Student Association) dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).  Di luar kampus, saya pun aktif di organisasi kerelawanan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan IIWC (Indonesia International Work Camp).  Kegiatan kerelawanan yang saya tekuni di luar kampus juga berkaitan erat dengan bidang kesehatan.  Di MER-C saya dahulu aktif sebagai asisten dokter yang membantu kegiatan klinik kesehatan di daerah Bandarharjo—sebuah daerah di pesisir kota Semarang yang sebagian besar penduduknya kurang mampu.  Klinik ini melayani pasien miskin (dahulu Jamkesmas atau saat ini BPJS-PBI) dengan biaya sangat murah dan bagi pasien lansia, pengobatannya digratiskan.

Saya bergabung dengan IIWC sejak tahun 2006 hingga tahun 2009.  Selama itu saya mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan diantaranya workcamp atau kemah bakti di berbagai tempat, baik sebagai peserta maupun sebagai camp leader.  Sasaran workcamp IIWC adalah pemberdayaan warga miskin, perbaikan pendidikan dan kesehatan.  Kegiatan workcamp yang saya ikuti antara lain dilaksanakan di kota Bantul, Yogyakarta, pasca gempa 2006 untuk membantu utamanya anak-anak memulihkan kondisi psikologi; di daerah Tegalsari Kab. Semarang yang merupakan sebuah area prostitusi, untuk melakukan penyuluhan kesehatan bagi para PSK dan bagi anak-anak yang tinggal di daerah tersebut; dan di daerah Gunungsari Kota Semarang, sebuah area dengan banyak sekali anak-anak jalanan dimana tugas kami adalah mengurangi waktu mereka berada di jalanan (jika saya tulis mengentaskan mereka dari jalanan, tampaknya target yang terlalu muluk-muluk untuk sebuah kegiatan yang berlangsung dua minggu) serta melakukan penyuluhan terkait penyakit tuberkulosis, karena daerah Gunungsari adalah daerah endemik tuberkulosis.

Dari IIWC itu pulalah, saya berkesempatan menjadi perwakilan relawan muda Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Europe Young Volunteer Exchange 2008 yang dilaksanakan di Bangkok.  Di sana saya mempresentasikan proposal saya mengenai rumah baca di area prostitusi Tegalsari, yang menjadi cikal bakal terbentuknya Komunitas Rumah Baca di Tegalsari.

Saat ini saya bekerja untuk INA-RESPOND (Indonesia Research Partnership on Infectious Diseases) sebagai asisten penelitian.  Jejaring ini bertujuan untuk melakukan penelitian dasar dan klinis, meningkatkan pemahaman tentang patogenesis penyakit, serta mencegah dan mengobati penyakit menular berdasarkan prioritas Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada akhirnya diharapkan agar hasil penelitian dari jejaring ini akan memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan membangun kapasitas penelitian berkelanjutan di Indonesia.    Meskipun kecil, saya yakin turut berkontribusi dalam pengembangan penelitian kesehatan di Indonesia.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, masih menghadapi persoalan klasik di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi. Berdasarkan data WHO di tahun 1998, penyakit infeksi berkontribusi terhadap lebih dari 45% kematian di negara ASEAN.  Seperti diketahui, infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit. Di sinilah peran ilmu mikrobiologi klinik dalam penanganan penyakit infeksi.  Mikrobiologi berperan dalam identifikasi penyebab infeksi sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi dan dicegah penyebarannya.

Setelah nantinya mendapatkan gelar master dari bidang mikrobiologi, saya berencana menjadi seorang dokter klinisi di bidang mikrobiologi klinik dan peneliti (dengan menjadi dosen dan melanjutkan spesialisasi Mikrobilogi Klinik) utamanya melakukan riset mengenai tuberkulosis (TB).  Indonesia merupakan negara dengan insiden TB tertinggi ketiga di dunia pada tahun 2014.  Hal ini membutuhkan perhatian khusus dan dibutuhkan penelitian-penelitian yang mendukung diagnosis, pengobatan, serta pencegahan penularan TB di Indonesia.

Saya berharap di masa depan bangsa Indonesia dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik dengan salah satunya pengendalian penyakit infeksi utamanya penyakit tuberkulosis, yang saat ini angka mortalitas dan morbiditasnya masih tinggi.

PS : Essai part 2 dan part 3 bisa dilihat disini dan disini.