Uncategorized

Gili Trawangan

Lombok, day 3

Rabu, 28 Maret 2012

Setelah sukses menemukan Kuta, kami makin optimis dengan perjalanan kami menuju utara.  Banyak hal yang dipelajari, salah satunya adalah menanyakan arah sebelum berangkat.  Karenanya sebelum berangkat, kami berkonsultasi dengan Tri.  Lala, yang kemarin masih takut kini sudah mulai akrab.  Hihi, tapi lucunya, dia cuma ngasih keripik tempe buat Nee.  Kalo ku yang ngambil g boleh 😦 Anyway, sekali lagi kami beruntung karena Tri meminjamkan sepeda motornya.

                Sebelum memulai perjalanan, kami sarapan di sebuah warung pecel.  Melihat kami dengan tas ransel besar-besar, pemilik warung pun memulai percakapan. “Mau kemana Neng?” “Mau ke Gili Trawangan Pak.” “Berdua aja nih?” “Iya pak.” Jawab kami santai karena terlalu sering mendapat pertanyaan yang sama.  “Wah, pasti masih pada single jadinya bisa bertualang kemana-mana.  Coba aja ntar kalo udah punya anak.” Kata pemilik warung dengan nada bercanda. Hahaha….  That’s what we’ve been thought.

                Perjalanan dari Mataram menuju Bangsal—penyebrangan ke Gili—membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.  Jalanan yang lurus (eh, kadang berkelak-kelok ding) dan pemandangan pantai di sepanjang jalan membuat kami bergitu menikmati perjalanan.  Sayangnya, cuaca mendung.  Ketika melewati pantai Senggigi dan Malibu, gerimis mengguyur.  Terpaksa kami sedikit ngebut agar tak kehujanan di jalan.

Image

                Pukul setengah 11 kami sampai di penyebrangan.  Kapal yang akan kami pakai adalah angkutan umum.  Jadinya harus menunggu penuh dulu (20 orang) baru berangkat.  Bagi yang ingin langsung berangkat, bisa juga langsung membayar sewa satu kapal.  Sambil menunggu kapal berangkat, kami browsing-browsing dulu.  Ternyata disitu g ada sinyal Indosat.  Nah, gara-gara itulah aku menemukan fakta unik.  Katanya, 90% warga Lombok menggunakan kartu XL.  Setidaknya begitulah yang dikatakan penjual SIM card di tempat penyebrangan.  Nira dengan simpatinya masih berjaya.

                 Oh ya.. Motor yang kami pakai harus dititipkan di sekitar penyebrangan (5000/malam) karena di Gili tidak boleh ada kendaraan bermotor—bebas polusi cuy..  Nee yang memakai kostum kesebelasan Barcelona begitu menarik perhatian.  Banyak sapaan ramah yang kami dapatkan berkenaan dengan Barca—yang kebetulan nanti malam akan bertanding melawan AC Milan di perempat final Liga Champion Eropa.

                Setengah jam berlalu, kapal mulai berangkat menyebrangi selat.  Ombak tak begitu kuat namun cukup membuat perutku mual.  Berkali-kali aku menghisap permen mint agar tak muntah.  Iseng aku tanya mas-mas di sebelahku berapa lama untuk sampai di Gili Trawangan.  Dia bilang, “satu jam mbak.  Bahkan bisa lebih kalo ombaknya gedhe.” Doeng! Satu jam? Kepalaku tiba-tiba makin pusing. Tapi alhamdulilah ternyata mas nya salah.  Kami telah sampai hanya dalam waktu setengah jam saja.  Begitu mendarat, kami langsung ditawari penginapan oleh mas-mas anak pantai *sebutannya g asik banget y? wkkwkwkwkwk (khas dengan rambut pirang, kulit hitam terbakar matahari, singletan dengan celana kolor). “Per malam 200 ribu mbak.” Kata salah satu diantara mereka.  “Yah, kemahalen mas.” Kata Nira.  “Kalau mau, saya ada yang semalem 150 ribu.” Timpal yang lain. “um.. kalo yang 100 ribu per malem ada g mas?” Nira melanjutkan. “ada-ada.. tapi g pake sarapan mbak.” Jawab mas-mas yang sedari tadi masih diem. “oke deh g masalah, yang penting bersih dan nyaman.” Deal! Cukup murah kan? Kami dapat sebuah kamar dengan double bed yang bersih, kamar mandi dalam n peralatan standar lainnya.  Hanya saja airnya asin. Kalau ingin kamar penginapan dengan air tawar, kita harus merogoh kocek lebih dalam. Dari penginapan pulalah kami menyewa sepeda seharga 40 ribu / hari, lebih murah 10 ribu jika dibanding persewaan di tepi pantai.  Kalau ingin per jam, harganya 15 ribu *kalo g salah. 

                Setelah beres-beres sebentar—bongkar2 lebih tepatnya—kami menuju tepi pantai untuk menyewa peralatan snorkling.  Lengkap dengan life vest kami hanya membayar 40 ribu (tanpa batasan waktu asal g dibalikin bulan depan aja :P).  sebelum snorkling aku memaksa Nee makan.  Walaupun gagal, tapi aku berhasil makan dengan kenyang dan hanya menghabiskan 11 ribu saja.  Jangan salah, suatu kebanggaan bwt backpacker bisa makan dengan murah disini.  Soalnya harga makanan disini, alamak.. selangit! *apalagi tempat makan yang dekat pantai.

                Selesai makan, mulailah snorkling.  Nira yang awalnya takut-takut malah keasyikan! “I, nanti jangan jauh2 ya!” pesannya padaku sebelum turun ke laut.  Setelah nyebur, eh malah dia yang ninggalin aku et causa keasyikan! Hehehe… Lautan/panti yang cukup tenang dengan terumbu karang dan ikan2 yang lucu membuat kami lupa waktu. Sayangnya, kami tak menemukan kura-kura yang katanya ada banyak disitu. Tak terasa ombak semakin besar menandakan waktu semakin sore. Akhirnya kami mengakhiri sesi snorkling sekitar pukul 5 diiringi dengan guyuran hujan rintik-rintik.

                Di dekat tempat kami snorkling, ada gedung berbentuk joglo yang didedikasikan untuk tempat konservasi penyu/kura-kura *aku bingung gimana mbedainnya.  Disana kita bisa melihat penyu2 yang baru ditetaskan dan dirawat hingga siap dilepas ke laut bebas.  Ada pula himbauan2 seperti “Do not touch”, “donate for turtles”, dll. Ada satu kalimat yang aku inget meskipun lupa persisnya, tapi intinya: jangan pegang2 penyu.  Kamu aja kalo dipegang2 marah. Hehehe… bener juga ye! 😀  Disediakan pula “kotak amal” bagi para penyu itu.  Tempat konservasi ini sangat penting mengingat populasi penyu yang semakin turun.  Terbukti waktu kami snorkling, tak satupun penyu kelihatan batang hidungnya…

                Sore jam 17.30 kami bersepeda keliling pulau.  Katanya sih pulau itu bisa dikelilingi dengan naik sepeda dengan mudah.  Tapi ternyata tak semudah membalik telur di penggorengan sodara-sodara!  Kaki-kaki kecil kami sudah gempor mengayuh sebelum khatam keliling pulau.  Apalagi ditambah jalanan berpasir yang menjadikannya “tricky”, agak berat dan gampang jatuh.  Tiba di spot untuk menonton sunset, kami berfoto-foto.  Sayang seribu sayang langit sedang mendung.  Keindahan sunset tak dapat kami nikmati.. “belum rejeki..”

Image

Saatnya pulang ke penginapan…

Malam hari di Gili Trawangan cukup kontras suasananya.  Di pantai, berbagai macam kafe dan bar menghidupkan suasana dengan hingar-bingar musik dan lampunya.  Benar-benar sulit dibayangkan bahwa Gili trawangan itu masih di Indonesia.  Manusia yang mendominasi adalah bule-bule rambut pirang dengan pakaian khas pantai *g usah diperjelas kan? 😀 Jika kita mau sedikit masuk ke dalam, suasana remang-remang dan “seperti desa” lah yang kita temukan.  Dari dalam kamar sayup-sayup kami mendengar musik dugem dari satu sisi dan loud speaker pengajian dari sisi yang lain.  What a life!

                Malam itu kami berdebat dan berdiskusi tentang rencana esok hari.  Aku ingin tinggal sehari lagi di Gili tapi Nee ingin melanjutkan perjalanan ke utara, menuju air terjun.  Berbagai argumen kami lemparkan.  Yang jelas, aku ingin snorkling, sedangkan Nira ingin mengejar target.  Setelah kupikir-pikir melalui perenungan panjang dan sempet gondok juga, akhirnya aku setuju untuk melanjutkan perjalanan.  Kalau kami berangkat besok, masih ada 1 hari untuk ramah tamah dengan keluarga Tri serta mencari oleh2.

                Disini, jika kita memiliki uang lebih, banyak pilihan yang bisa kita nikmati.  Mulai dari diving (baik course maupun mandiri), wisata dengan glass-boat, dan wisata kuliner utamanya sea food.  Ada juga kursus menunggang kuda bagi yang hobi.  Tinggal pilih mana yang sesuai. 

Image