Kesehatan

Rubella

“Asik ya ngobrol sama dokter. Bisa seenaknya tanya.”

“Ngeblog Ndri, tentang dunia medis dan penanganan penyakit.”

Dari obrolan dengan seorang teman itulah (yang merupakan blogger sekaligus ibu) aku menulis tulisan ini. Karena bingung memilih tema apa, aku tulis saja salah satu topik pembicaraan kami.  Semoga bermanfaat 🙂

RUBELLA

Rubella, yang berarti “merah kecil” merupakan sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus rubella.  Karena pertama kali dideskripsikan oleh dokter Jerman, rubella disebut juga campak Jerman (German measles).  Untuk nama lain dalam bahasa daerah, maaf saya belum menemukan. Hehe… Mungkin nama campak Jerman sering keliru dengan “campak / morbilli / English measles / gabagen”.  So, dalam tulisan ini selanjutnya akan disebut rubella saja.

Bagaimanakah gejalanya?  Pada anak-anak, biasanya merupakan penyakit ringan dan dapat sembuh sendiri.  Gejala prodromal (sebelum munculnya ruam merah pada kulit) berupa demam tidak tinggi, konjungtivitis atau radang selaput mata, sakit tenggorokan, coryza (bersin-bersin dan hidung meler), nyeri kepala, malaise (badan lemas, tidak bersemangat), dan pembesaran kelenjar limfe.  Gejala ini biasanya muncul kurang lebih 5 hari sebelum muncul ruam merah.  Ruam rubella mempunyai ciri-ciri sedikit gatal, muncul dimulai dari wajah, menyebar ke badan lalu ke tangan dan kaki.  Ruam biasanya akan mulai menghilang setelah 3 hari dengan urutan yang sama dengan kemunculanya.

Berkebalikan dengan gejala yang ringan jika menyerang anak atau orang dewasa yang tidak hamil, infeksi pada wanita hamil dapat sangat serius.  Tergantung usia kehamilan saat terinfeksi rubella, infeksi ini dapat mengakibatkan :

– Abortus spontan (keguguran)

– Infeksi janin

– Bayi lahir mati

– Restriksi pertumbuhan janin

Infeksi pada ibu hamil dapat ditularkan pada janin yang dikandungnya yang dapat mengakibatkan sindroma rubella kongenital (penyakit yang diderita sejak lahir), yaitu:

– Kelainan pendengaran (tuli saraf)

– Kelainan jantung

– Kelainan pada mata (Retinopati, katarak, mikroftalmia, glaukoma)

– Sistem saraf pusat (retardasi mental, mikrosefali/kepala kecil, infeksi otak/selaput otak)

– Lain-lain (kelainan darah, pembesaran hati dan limpa, penyakit tulang)

Bagaimanakah Pengobatanya? Pada dasarnya tidak ada terapi khusus untuk rubella karena sifatnya yang sembuh sendiri (self limiting disease).  Pengobatan hanya bersifat suportif (mengurangi gejala).  Untuk ibu hamil yang terinfeksi, penting mengetahui usia kehamilan saat terkena karena penting untung konseling mengenai kemungkinan cacat bawaan.

Bagaimanakah penularan penyakit ini?
Penyakit ini ditularkan dari orang yang terkena rubella melalui droplet (percikan air kecil yang dihasilkan ketika batuk atau bersin) selama periode 7 hari sebelum munculnya ruam hingga 5-7 hari setelah munculnya ruam.

Dapatkah dicegah?  Rubella dapat dicegah dengan pemberian vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) pada anak.  Vaksin MMR ini diberikan pada usia 15 bulan atau usia 12 bulan jika anak belum mendapatkan vaksin campak.  Vaksin ulangan diberikan pada usia 5-7 tahun.  Untuk pencegahan sindroma rubella kongenital, dapat dilakukan pemeriksaan TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus) dan pemberian vaksin sebelum ibu hamil.

Advertisements
Uncategorized

A Medical Doctor, finally

Senin, 7 Mei 2012

Bertepatan dengan hari pendidikan nasional (2 Mei 2012), aku bersama dengan keenambelas teman lainnya berikrar sumpah dokter.  Alhamdulilah, akhirnya gelar ini dengan resmi aku sandang.  Bukan hanya rasa bahagia dan syukur yang aku rasakan, tetapi juga beban.  Beban karena sumpah ini tidak hanya ku pertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.  However, beban ini harus kujadikan pelecut semangat untuk terus maju dan berkembang.  Seperti dalam sebuah quotes dari Prof Sudharto saat pidato wisuda kemarin, “Hanya orang yang berani menanggung bebanlah yang berhak akan keajaiban”.

Bismillah… Tuntunlah hamba untuk menjadi dokter yang baik ya Allah…

Traveling

Kuta Lombok

Lombok, day 2

Selasa, 27 Maret 2012

It was quite creepy house… Rumah yang kami tempati ini terletak di kawasan Hindu dan cukup sepi. Halaman depan berbatasan dengan sawah, dan karena letaknya di pojok,  hanya sebelah kirinya yang terdapat rumah. Sebelah kanan juga merupakan sawah yang padinya sudah menguning dan siap untuk dipanen. Berkali-kali Tri menanyakan, “Berani mbak tinggal berdua saja?”, dan dengan meyakinkan kami bilang berani. Tentu saja, kini kami harus benar-benar berani. Hehe… Ceritanya, kami ini “dititipkan” di rumah teman Tri. Rumah yang saat ini ditempati Tri tak mampu lagi menampung penghuni baru karena telah penuh sesak dengan para cowok yang berprofesi sebagai pedagang martabak. Maka, kami diungsikan ke rumah temannya Tri yang tidak dipakai.

Setengah 5 pagi kami sudah bangun dan menunaikan sholat subuh. Tapi karena satu dan lain hal (capek, males mandi karena masih dingin) ‘perjalanan’ baru dimulai pukul setengah 8. Kami mengambil shortcut menuju rumah Tri melewati sawah. Hehehe… Jadi inget masa SD dulu. Aku, Tri, dik Santi, Sartini sering main ke sawah dengan izin ke ortu sebagai ‘belajar kelompok’. =D

Di rumah Tri, kami bertemu dengan keluarga lengkap (Tri, Mas Arvin dan Lala putri mereka). Setelah mendapat pinjaman motor, aku n Nee berangkat menuju Kuta (dengan kebaikan hati host ku itu, kami tidak perlu mengeluarkan 35 ribu/hari untuk sewa motor).

Pede Abis! Itu yang bisa kukatakan mengingat kondisi kami saat itu. Berbekal peta dan kompas, kami menuju Lombok Tengah dimana Kuta berada. Saat kami bertanya arah (masih di Mataram), semua bilang, “jauh sekali”. Dan hampir semua orang  mempertanyakan apakah kami hanya bepergian berdua. Mungkin masyarakat disini belum terbiasa dengan backpacker perempuan 😀 Sepanjang perjalanan, tak dapat dipungkiri terkadang aku meragukan kemampuan navigasi Nee, dan Nee sepertinya tahu hal itu, sehingga terdengar sedikit nada kesal ketika kami berargumen apakah harus belok kanan atau kiri, lurus atau belok dsb.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama 1,5 jam harus kami tempuh dalam 2 jam karena sering berhenti untuk bertanya dan memastikan arah.

Alhamdulilah, keindahan Kute membayar lunas plus bunga-bunganya rasa lelah dan panas yang menerpa kami. Kute Lombok itu indah…. Hamparan lautnya yang biru kehijauan, pasir putihnya yang unik seperti merica, dan langit biru bersaput awan putih… Cuaca yang cerah menambah kesempurnaan suasana kala itu. Air laut jadi tampak sangat jernih, langit biru sempurna! Semuanya padu, indah, subhannallah… Maha suci Allah yang menciptakan langit, bumi, beserta isinya….. Satu hal yang perlu diingat, jangan lupa memakai tabir surya dan kacamata hitam. Jangan sampai liburan yang asik ini terganggu dengan sunburn (dan peningkatan risiko melanoma maligna) serta risiko katarak XD Ombak disana cukup tenang, cukup aman bagi para pemula untuk berenang di laut. Tapi kalau tidak yakin, mending di tepi saja, soalnya tidak ada life guard alias penjaga pantai. Hehe…

Garis pantai Kute Lombok memang agak panjang. Namun tidak semuanya dapat kita akses karena telah dimiliki oleh resort-resort. Beruntung, kami bertemu dengan anak-anak penjual gelang dan kelapa muda sehingga kami “diijinkan” menikmati pantai milik hotel Novotel. Hehe.. kami bahkan sempat bermain volley bersama-sama di hamparan pasir putih berbulir-bulir. Matahari semakin meninggi, perut pun mulai keroncongan. Dan yang menjadi menu makan siang kali ini adalah….. kelapa muda! What a lunch! 😀

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai Seger. Pasir disini masih putih bersih, hanya saja tak lagi berbulir seperti merica. Ombaknya tenang, namun semakin sore semakin besar, sehingga para surfer biasanya memulai surfing disini sekitar pukul 16. Segarnya… airnya bersih, dari kejauhan tampak biru kehijauan. Pingin banget nyemplung tapi tidak ada tempat ganti.  Disini kami bertemu dengan pemuda-pemuda iseng. Hati-hati bagi para cewek yang bepergian tanpa teman. Orang-orang /pemuda Lombok Tengah memang memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan orang-orang yang kami temui di Mataram. Disini kami lebih sering mendapatkan sapaan iseng.

Pantai di Lombok tiada habisnya untuk dinikmati. Bisa dikatakan, disetiap tikungan jalan kita bisa berhenti dan menikmati indahnya pantai…. Pantai terakhir yang kami kunjungi hari ini adalah Tanjung Aan (baca: Tanjung An). Beberapa kali aku dikoreksi karena menyebutnya sebagai Tajung A-an. Hehe..

Selain menikmati pantai, kami juga membeli cindera mata berupa kain tenun khas Sasak. Hati-hati…. Para penjual disini sangat lihai. Kami pun “terjebak” dalam perangkap. Hati kami yang mudah merasa iba ini luluh juga dengan keluh kesah mereka. Katanya sudah seminggu tidak ada pembeli—yang sangat masuk akal karena sedari tadi hanya kami pengunjung pantai, desa mereka yang jauh sehingga tidak dikunjungi turis, dll. Akhirnya kami membeli 2pcs kain tenun seharga @Rp 100 ribu, later we found out kain itu bisa dibeli seharga @Rp 60 ribu di desa adat Sade. Kali ini aku ikut-ikutan naïve…. Akhirnya kami menghibur diri bahwa ini adalah bentuk sedekah kami. Wkwkwkwkwk….

Sebelum pulang, kami mampir di desa adat Sade dan Masjid kuno Rembitan. Di Sade kami berkenalan dengan ibu Puri yang menjelaskan kain tenun, adat, dan juga kehidupan disana. Sayang seribu sayang kami tidak punya uang cash! ATM BNI di Kuta begitu saja kami lewati alias lupa… sehingga kami tidak bisa berbelanja  Uang terakhir yang aku miliki sudah aku masukkan ke kotak donasi sewaktu kami mengisi guestbook di pintu masuk desa adat.

Di Masjid Rembitan kami diterima oleh bapak penjaga Masjid yang sudah cukup berumur. Masjid ini mempunyai arsitektur yang khas dengan pintu masuk rendah, dimaksudkan agar orang yang memasuki masjid menunduk, menghormati tempat ibadah ini. Sayangnya, bahasa yang kami gunakan agak roaming. Saya tidak begitu mengerti apa yang dijelaskan bapaknya. Selain aksen, bapak tersebut memang sudah sepuh, jadi kata-kata beliau juga tidak begitu jelas terdengar.

Masjid Kuno Rembitan sudah jarang digunakan, hanya untuk hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sebenarnya penjaga masjid bilang kalau kami bisa sholat ashar disitu, tapi kami tak tega XD Lantai masih berupa tanah, udara yang cukup lembab dan penerangan yang kurang memadai menjadi alasan kami. Ditambah, melihat ‘mantan’ tempat wudhu di depan masjid yang berupa ceruk di bawah pohon beringin dengan air hijau kehitaman ditaburi daun beringin di atasnya… Nyamuk Anopheles pasti senang bertelur disitu  Akhirnya kami mencari masjid di sepanjang perjalanan pulang. Gampang-gampang susah, memang banyak masjid sih, tapi kebanyakan berada di dalam pondok pesantren dan kami tidak tahu apakah orang boleh masuk ke lingkungan pondok sembarangan. Finally, we got one.. disana banyak anak mengaji, suasananya benar-benar menenangkan. Dan kami sepakat bahwa setiap masjid itu sejuk.

Glukosa dalam darah semakin rendah, semakin sulit konsentrasi. Cara mengendarai motorku semakin tak karuan. Banyak lubang di jalan yang gagal aku hindari sehingga mengakibatkan goncangan vertebra yang cukup dahsyat, utamanya bagi orang yang kubonceng 😀 Bekal roti mari yang tinggal sedikit rupanya tak mampu meningkatkan gula darah secara signifikan. Dan kami pun memutuskan mampir warung di tepi jalan. Apa daya, menu yang benar2 available adalah pop mie… tahan lapar sedikit lagi! Alhamdulilah, pukul setengah 5 kami sampai juga di kota Mataram.. Proper food, finally… Yeay!! Meskipun cuma nasi goreng 😀

Rencana kami malam itu adalah mengembalikan motor sambil mencari tahu rute perjalanan kami selanjutnya (Gili Trawangan) tapi ada daya badan sudah tak kuat. Karena jam 9 malam Tri belum pulang dari besuk tetangga di RS, kami pun tanpa sadar tertidur pulas tanpa memasukkan motor dalam garasi XD