Traveling

Awesome Trip – Lombok Day 1

Senin, 26 Maret 2012

“Senpai, ayo cepetan!” ajakku pada Mas Fajar yang sedang merapikan jaketnya.  Sudah pukul 8 kurang 10, dan kami belum berangkat.  Sementara untuk mencapai stasium Tawang diperlukan kurang lebih 30 menit, dan keretaku berangkat jam 08.30. Duh!  Tentu saja akhirnya Mas Fajar ngebut.  Tas berat di punggung tak lagi kurasa, aku hanya berharap cepat sampai dan tak ketinggalan kereta.

“Ayo cepet mbak, 10 menit lagi kereta berangkat!” Kata penjaga karcis parkir.  Sedikit lega karena belum tertinggal kereta, aku segera berlari masuk stasiun dan mencari sosok Nira, teman seperjalananku itu.  Panik, aku tidak melihat Nira.  “Nee, dimana kamu?” bisiku sembari menelponya.  Ternyata dia duduk di bangku depanku tapi agak jauh.

“Alhamdulilah..” seru kami setelah berhasil duduk di bangku kereta.  Sayangnya tidak ada adegan gentleman yang membantu kami menaruh tas di tempatnya (di atas kepala).  Untunglah, setelah 6 tahun di FK, kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Hihi..  Tak berhenti sampai disitu ternyata.  Unyar menelpon, dia ada di stasiun.  Kami pun turun kembali untuk mengucap salam perpisahan yang tidak seberapa lama karena penjaga stasiun memarahi kami agar cepat masuk kereta.  Maaf 😀

Sepanjang perjalanan di kereta ber-AC (angin cepoi2) itu kami bercerita.  Empat jam perjalanan tak pernah sepi dari perbincangan.  Maklum, sudah lama tak bersua.  Nee, sapaan akrab untuk Nira, selama ini berada di Bogor dan aku sendiri baru saja selesai komprehensif di Slawi.  Kurang lebih pukul 12.45 kami sampai di stasiun Pasar Turi, Surabaya.  Niat kami, kami akan membeli tiket pulang dulu sebelum meninggalkan stasiun.  Tetapi melihat antrian yang mengular, seketika membuat kami berubah pikiran.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik bus menuju Terminal Bungur Asih, terminal terbesar di Surabaya.  Sebelum menuju terminal, kami melaksanakan sholat dhuhur yang tak lupa dijamak qashar.  Nee berargumen bahwa, jika Allah telah memberi keringanan dan kita tidak memakainya, kita akan dicap sombong oleh Allah SWT. Wallahualam 🙂

Di dalam bus menuju terminal itu, kami mengobrol dengan seorang cewek yang pernah pula backpacking ke Lombok untuk mendaki gunung Rinjani.  Wow, kami tak menyangka sama sekali karena wajah mbak itu terbilang mulus dan imut. Hehehe… sekali lagi, don’t look the book just from its cover!   Kami membayar 5000 untuk ongkos bus.  Next, kami naik bus DAMRI yang langsung menuju airport.  Bus shuttle bandara-terminal ini memang disediakan untuk mempermudah transportasi para traveler.  Cukup dengan merogoh kocek 15 ribu, kita akan dengan nyaman diantar sampai bandara (bus ber AC, ada tempat untuk luggage).  Tapi yang perlu diingat adalah waktu tempuh sekitar 45 menit sampai 1 jam.  Kalau jadwal check in mepet, ada alternatif berupa taksi (50 ribu) dan ojek (25 ribu).  Buat para penawar ulung, silakan saja nego harga. Hihi..

Sekitar pukul 15.30 kami menginjakkan kaki di Bandara Juanda – bandara yang mengklaim merupakan bandara terbersih se-Indonesia.  Begitu turun dari bus, yang pertama kami cari adalah troley, gak mau lama2 menggendong tas seberat 10 kg XD.  Setelah check ini dan kecewa karena penerbangan ditunda, kami nola-noli dibandara.  Bau harum semerbak ‘Roti Boy’ *maap nyebut merek* akhirnya mengalahkan tekad kami untuk mengurangi pengeluaran tak penting.  Roti hangat, perut lapar, dan tidak ada kerjaan sungguh kombinasi yang sempurna. Alhamdulilah..

Setelah ini akan kuceritakan sebuah tragedi yang sungguh dramatis, yang sayangnya sulit kupercaya.  Call me paranoid, but that’s I am!

Ketika itu aku meninggalkan Nee sendirian untuk mengambil ATM dan ke kamar mandi.  Akhirnya aku mengamini bahwa bandara Juanda adalah bandara terbersih se-Indonesia setelah melihat toiletnya. Bersih, wangi, dan ada hiasan bunga Krisan segar! Cantiknya….  Sekembalinya dari toilet, kutemukan Nee dengan wajah aneh, puzzled, kasihan, dan sedang menganalisis sesuatu.  Singkat cerita, ia baru saja berkenalan dengan sebuah keluarga yang berasal dari Banjarmasin.  Mereka terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan remaja, dan dua anak kecil laki-laki.  Mereka baru saja pulang dari liburan di Jogja.  Malang tak dapat ditolak, tas mereka yang berisi dompet, hp, dan tiket pesawat diambil orang.  Sesampainya di terminal, mereka bertemu dengan orang yang berniat “membantu” dengan meminjamkan ATMnya agar ditransfer uang oleh saudara Pak Banjar (sebut saja demikian) sebesar 1 juta.  Eh, ternyata orang tersebut juga penipu.  Setelah uang ditransfer, oknum tersebut kabur.  Telah tertipu 2x, mereka lapor polisi.  Polisi menyarankan agar mereka segera ke bandara dan mengurus tiket yang hilang.  Karena sudah expired, akhirnya tiket mereka hangus. Mereka akhirnya memilih bertahan di bandara karena di bandara relatif lebih aman, dan kalau mau pake toilet, gratis.  Tapi kini mereka sama sekali tidak punya uang, bahkan untuk makan.  Padahal mereka harus bertahan minimal sampai besok, karena sodara yang dari Jakarta akan menjemput.  Kasihan, tentu saja itu yang terbersit pertama kali di pikiranku.  Tapi dasar, aku kebanyakan nonton film detektif.  Banyak kejanggalan dalam cerita mereka.  Pertama, mengapa dompet ayah-ibu digabung?  Mengapa dengan mudah percaya pada orang untuk mentransfer uang? Padahal ada fasilitas western union, dan seribu pertanyaan lain…

Bagaimanapun, akhirnya kami memutuskan untuk membelikan mereka makanan saja.  Sebelum kami berpisah, Nee dan Pak Banjar bertukar nomer HP.  Alhamdulilah, akhirnya ada orang yang mau membantu keluarga tersebut. Cerita belum berakhir.  Setelah kami masuk dan menunggu boarding, Pak Banjar meminta bantuan untuk melihat jadwal kapal ke Banjarmasin / Balikpapan.  Sesudah kami berikan jadwalnya—Nee bawa laptop n modem—Pak Banjar sms kembali.  Bliau minta tolong pinjam uang 200 – 300 ribu. Eaaaaa…. Itu yang sedari tadi aku takutkan, UUD alias ujung-ujungnya duit.  Maaf, tapi kali ini paranoidku mengalahkan kebaikan hati Nee….

Alhamdulilah penerbangan Surabaya – Mataram berjalan mulus.  Pesawat take off pukul 19.30 WIB dan landing pukul 21.15 WITA.  Tak sempat berfoto-foto karena sudah malam, kami langsung menuju bus DAMRI.  Kembali Rp 15.000 kami keluarkan.  Bus shuttle hanya mengantar sampai PO, dari PO kami lanjutkan dengan taksi menuju rumah Tri, kawan SD yang kini tinggal di Mataram.

Pukul 11 malam kami tiba di Rumah Tri.  Sambutan yang hangat ia berikan meskipun awalnya agak kaku karena kami sudah lama tak bertemu 😀  Alhamdulilah (lagi-lagi), ayam taliwang menyambut perutku yang kosong.  Hihi, maap y Nee kamu cuma dapat sambel! Teman vegetarianku ini harus puas maem dengan ‘beberuk’ alias sambel tomat dengan kacang panjang saja malam itu. =D

Advertisements
Uncategorized

Every Step is a Hope

Alhamdulilah… Satu perjalanan lagi telah ku tempuh. InsyaAllah banyak hikmah yang aku dapatkan dari perjalanan di pulau seribu masjid ini.  Seperti biasa, travelingku adalah budget traveling—hehehe, meskipun tidak sepenuhnya nggembel—sehingga banyak hal yang harus dipikirkan mengenai efektivitas dan efisiensi.

Perjalanan kali ini akan ku tulis dalam bentuk cerita, masing-masing untuk satu hari.  Semoga tidak terlalu panjang dan membosankan 😀

Happy reading!

Every step is a hope ~ surfer